Catatan Dahlan Iskan

Pengusaha Pilihan

Di Yogyakarta saya ingin tahu: seberapa banyak para pengrajin sudah memanfaatkan AI untuk perusahaan mereka.

Pengusaha Pilihan

Ia pengusaha garmen yang sukses. Karyawannya 15.000 orang. Ekspornya mendominasi omzetnya.

Begitu datang ia cepat-cepat sembahyang di depan peti jenazah. Lalu bergabung ke meja kami yang penuh makanan: soto kudus, tahu campur, sushi, rawon, es krim, es cendol, ronde, dan saya tidak hafal selebihnya.

Sambil melayat kami pun bicara soal keadaan ekonomi nasional. Termasuk ekspor garmen. Ternyata pabrik sebesar miliknya kini melayani pembeli eceran di luar negeri. Ini saya jadikan contoh hidup bagi pengusaha di Yogyakarta itu: jangan lagi terpaku pada cara lama.

Ekspor eceran yang dikembangkan pengusaha Bandung itu adalah jas. Ia melayani pembelian biar pun hanya satu jas. Yang pesan orang dari Jepang. Ia ekspor jas satu biji untuk satu pengiriman ke Jepang.

Kian hari order eceran seperti itu kian banyak. Saat mesong itu ia mengatakan ekspor ecerannya sudah mencapai 1.000 jas sebulan.

Maka saya minta pimpinan PT Pos Indonesia cabang utama Yogyakarta Bebi Ahmed Jo Pical untuk naik ke panggung. Saya minta ia diskusi dengan eksporter kerajinan itu mengenai teknis ekspor eceran. Apalagi kini Pos Indonesia sudah punya layanan seperti itu.

Seorang eksporter lainnya, Deddy Effendy, bercerita: kini ia selalu minta bantuan AI untuk membuatkan desain produk kerajinan yang baru. Ia tidak punya lagi karyawan bidang desain.

"Dalam sebulan berapa kali minta bantuan desain dari AI?"

"Tiap hari pak," jawabnya.

"Hah? Tiap hari?"

"Iya pak".

"Sebulan berapa desain yang dibuat AI?"

"Bisa 60 desain pak".

"Hahaha...".

Itulah peran AI di perusahaannya. Ia belum memanfaatkan AI untuk memperluas marketing.

Berita Terkait