Jumling Suyudi
Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto –mungkin hari ini ia sudah naik pangkat dari Komjen bintang tiga ke Jenderal Polisi bintang empat.
"Dengan Jumling itu polisi bisa lebih dekat ke masyarakat," ujar Suyudi saat itu seperti diingat Mashudi.
"Yang juga menonjol dari Pak Suyudi adalah ketegasannya menghadapi premanisme di Banten," ujar Mashudi. Wartawan banyak mendapat berita dari Polda soal pemberantasan preman itu. "Preman yang ditangkap sampai 492 orang," ujar Mashudi –namanya memang satu kata: Mashudi. "Ketua Kadin Cilegon pun ditangkap," tambahnya.
Anda masih ingat: itu terkait dengan permintaan sang ketua Kadin ke Candra Asri agar memberinya proyek senilai Rp5 triliun. Candra Asri, perusahaan milik Prayogo Pangestu, memang akan membangun proyek petrochemical di Cilegon yang bernilai lebih Rp50 triliun.
Jenderal Suyudi juga punya program yang disebut Poliran –Polisi Peduli Pengangguran. Rupanya Suyudi melihat pengangguran adalah akar terjadinya kriminalitas, premanisme, dan ketidakstabilan keamanan. Wartawan di Banten mencatat Polda banyak melakukan pelatihan ketrampilan dan magang. Mereka yang sudah ikut pelatihan disalurkan ke perusahaan-perusahaan untuk magang kerja. Setelah punya pengalaman kerja para pengangguran bisa punya pilihan lebih banyak.
Yang menonjol lainnya dari Suyudi: penegakan disiplin di internal polisi di Polda sendiri. Terutama kalau ada polisi yang main-main dengan narkoba. Suyudi sangat menonjol soal narkoba ini –tak ayal kalau setelah menjadi kapolda ia menjabat kepala BNN –Badan Narkotika Nasional. Dari BNN ia langsung jadi kapolri.
"Kalau ada polisi yang tidak disiplin atau main-main narkoba dikirim ke pesantren, hidup di pesantren selama dua minggu," ujar Mashudi.
"Apa kesukaan makanan daerah Suyudi?"
"Jejorong," ujar Mashudi.
Sebagai orang asli Pandeglang Suyudi makan jejorong sejak kecil. Itu kue khas Pandeglang sampai Lebak. Anda sudah tahu apa itu jejorong: kue kukus dibungkus daun pisang. Bagian bawahnya gula aren, tengahnya tepung, atasnya santan. Gula arennya tidak dicairkan sehingga setelah dikukus bisa menyatu dengan tepung bagian bawah –tidak sampai meleleh. Gurih. Enak. Apalagi saat dimakan waktu masih hangat.
Di lingkungan keluarga, Suyudi sangat rendah hati. Jauh dari kesan arogan. Setiap berkunjung ke keluarga di Pandeglang maupun Rangkasbitung Suyudi tidak pernah berpakaian dinas. Ketika ditanya soal itu ia mengatakan agar hubungan bisa lebih kekeluargaan.
Baca Juga
Dari semua itu saya terkesan dengan keberaniannya memberantas premanisme di sekitar perusahaan. Kini dengan jabatan Kapolri Suyudi pasti tahu salah satu gangguan terbesar iklim investasi bukanlah perizinan tapi premanisme dengan segala bentuknya. Atau itu menjadi salah satu instruksi utamanya kepada semua Kapolda baru.
Wajar dari kapolri baru muncul banyak harapan baru –sampai harapan itu ternyata tinggal harapan. (Dahlan Iskan)
Berita Terkait
Jumling Suyudi
Kebatinan Joao