Bahlil Bahlil
Kabinet kita yang gendut kian tambun saja: ada nomenklatur baru di reshuffle kabinet Merah Putih kemarin. Dibentuk kemenko baru: hilirisasi dan transisi energi. Ada pula tambahan wakil menteri di banyak kementerian.
Saya ingin mengulas lebih panjang soal kemenko yang baru: Hilirisasi dan Transisi Energi. Lebih menarik lagi karena yang menjabat menko adalah Bahlil Lahadalia –dirangkap dengan jabatannya selama ini: menteri ESDM.
Kita belum tahu: kementerian apa saja yang akan di bawah menko hiltrans. Yang pasti Kementerian ESDM dan Perindustrian. Apakah kementerian perdagangan akan di bawahnya juga.
Dalam reshuffle kemarin Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dicopot. Penggantinya tetap dari Golkar: M. Sarmuji, yang tak lain adalah sekjen Golkar. Maka, karena ketua umumnya menko dan sekjennya menjabat menteri perindustrian koordinasi di DPP Golkar bisa lebih lancar.
Presiden Prabowo rupanya melihat hilirisasi dan transisi energi termasuk yang akan didorong keras. Hilirisasi nikel misalnya, bisa dianggap sukses. Sedang untuk bauksit dan timah masih jauh. Maka menterinya diganti.
Bagaimana dengan transisi energi? Sebagai menko, Bahlil bisa minta pertanggungjawaban menteri ESDM. Bahlil memerintah Bahlil. Bahlil marah-marah ke Bahlil. Lebih mudah. Melekat pada orang yang sama.
Transisi energi –dari fosil ke tenaga surya– memang punya hambatan besar di PLN. Listrik untuk Jawa dan Sumatera sudah cukup. Harga produksinya pun murah –karena didominasi oleh batu bara dan tenaga air. PLN langsung sulit kalau harus membeli listrik dari solar cell yang lebih mahal.
Tapi PLN kan milik negara. Bisa dipaksa negara untuk berubah ke solar cell –asal selisih harganya ditanggung oleh yang memerintahkan: negara. Misalnya lewat subsidi.
Transisi energi memang krusial sekali. Saya ingin tahu apa perintah tegas Bahlil ke Bahlil di soal transisi energi ini.
Beda dengan hilirisasi. Sukses hilirisasi nikel –matur nuwun Pak Jokowi– ternyata bisa menjadi pendorong kemajuan lebih tinggi lagi. Berkat ada hilirisasi nikel kini di Morowali muncul industri lanjutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Yakni industri berbagai jenis material baterai lithium untuk diekspor. Termasuk jenis yang bahan bakunya diimpor ke Morowali dari Australia dan Afrika Selatan.
Lihatlah grafik yang menyertai tulisan ini: awalnya ekspor hasil hilirisasi nikel mencapai USD315 juta. Begitu muncul jenis industri lanjutannya ekspor melonjak sampai ke USD1.266 juta. Itu angka bandingan tahun 2025 dan 2026 –sama-sama enam bulan pertama.
Baca Juga
Itu yang disebut invisible impact: kemajuan melahirkan kemajuan yang lain.
Yang saya khawatirkan adalah ini: Presiden Prabowo akan memaksakan hilirisasi batu bara. Yakni mengubah batu bara menjadi gas. Secara teori dan secara ilmu itu sangat baik dan ideal. Tapi dalam praktik masih sangat sulit.
Apalagi harga batu bara 4.000 kalori kini sudah USD80/ton. Kalau dijadikan gas harga gasnya bisa USD18/MMBTU. Sedang harga gas alam sekarang di bawah itu.
Memang secara teknologi sudah ada yang membuktikan: Amerika, Afrika Selatan, Tiongkok. Batu bara dipanaskan di ruang tanpa oksigen: menjadi gas sintetis. Lalu sin gas itu diproses lebih lanjut: dimurnikan. Jadilah gas setara gas alam.
Kelihatannya sederhana dan beres. Tapi stabilitas harga batu bara sulit dipegang.