Danantara Ciptakan Ekonomi Hijau via Pelindo
Ada satu pertanyaan penting yang patut diajukan ketika Indonesia memasuki era baru pengelolaan aset negara melalui Danantara: untuk apa kekayaan negara dikelola dan diarahkan?
“Apakah investasi tersebut memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia dalam 20–30 tahun ke depan?”
Inilah paradigma long-term value creation. Dengan paradigma tersebut, modernisasi pelabuhan dapat menjadi salah satu portofolio investasi hijau nasional.
Bayangkan jika dalam satu dekade ke depan pelabuhan-pelabuhan strategis Pelindo tidak hanya menjadi terminal logistik, tetapi berkembang menjadi pusat energi bersih.
- Atap terminal dipenuhi panel surya.
- Peralatan bongkar muat secara bertahap menggunakan tenaga listrik.
- Truk dan kendaraan operasional pelabuhan beralih menuju kendaraan rendah atau tanpa emisi.
- Kapal yang bersandar dapat menggunakan listrik darat.
- Sistem digital mengatur pergerakan kapal dan kendaraan sehingga waktu tunggu dapat ditekan.
- Limbah kapal dikelola secara terintegrasi.
- Air hujan dimanfaatkan kembali.
- Mangrove dan ekosistem pesisir menjadi bagian dari sistem perlindungan kawasan.
- Data energi dan emisi dipantau secara real time.
Bahkan, kawasan pelabuhan dapat terhubung dengan industri di sekitarnya dalam sistem industrial symbiosis, ketika limbah atau produk samping satu industri menjadi input bagi industri lainnya. Itulah gambaran pelabuhan masa depan.
Pelabuhan Harus Menjadi Infrastruktur yang Climate-Resilient
Ada teori lain yang semakin penting, yaitu climate resilience. Infrastruktur masa depan harus bukan hanya rendah emisi, tetapi juga mampu menghadapi dampak perubahan iklim. Pelabuhan sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut, gelombang ekstrem, banjir rob, badai, perubahan pola cuaca, dan gangguan rantai pasok.
Karena itu, investasi Danantara di sektor kepelabuhanan seharusnya memasukkan climate risk assessment sebagai bagian dari keputusan investasi. Dermaga yang dibangun hari ini harus mempertimbangkan kondisi iklim beberapa dekade mendatang. Gudang harus dirancang menghadapi risiko banjir. Sistem kelistrikan harus memiliki ketahanan terhadap gangguan.
Sistem digital harus memiliki redundansi. Jalur logistik harus memiliki alternatif ketika terjadi bencana. Dengan kata lain, pelabuhan hijau harus sekaligus menjadi pelabuhan tangguh.
Ada satu aspek yang sering terlupakan dalam pembicaraan tentang dekarbonisasi: manusia.
Elektrifikasi dan otomasi memang dapat meningkatkan efisiensi. Namun teknologi baru juga membutuhkan keterampilan baru. Operator alat bongkar muat yang selama ini bekerja dengan mesin diesel harus memahami sistem elektrifikasi.
Teknisi harus menguasai baterai dan sistem kelistrikan. Tenaga kerja harus memahami digitalisasi, otomasi, keselamatan teknologi baru, serta sistem energi bersih. Karena itu, teori just transition menjadi sangat penting. Transisi hijau tidak boleh sekadar memindahkan Indonesia dari ekonomi berbasis karbon menuju ekonomi berbasis teknologi, sementara sebagian pekerja kehilangan kesempatan untuk beradaptasi.
Baca Juga
Justru investasi hijau harus menjadi kesempatan untuk menciptakan green jobs. Danantara bersama Pelindo dapat membangun Green Maritime Skills Program: program peningkatan kompetensi pekerja pelabuhan untuk elektrifikasi, energi terbarukan, otomasi, digitalisasi, keselamatan teknologi, pengelolaan lingkungan, dan ekonomi sirkular. Dengan demikian, transformasi hijau bukan hanya transformasi mesin. Ia adalah transformasi manusia.
Pelabuhan sebagai Titik Awal Ekonomi Hijau Nasional
Sebenarnya, mengapa harus pelabuhan? Karena pelabuhan memiliki efek pengganda yang sangat besar. Ketika sebuah pelabuhan menjadi lebih efisien, dampaknya menyebar ke transportasi darat, pergudangan, industri, perdagangan, dan konsumen. Ketika pelabuhan mengurangi penggunaan energi fosil, rantai pasok ikut terdorong melakukan perubahan.