Opini

Danantara Ciptakan Ekonomi Hijau via Pelindo

Ada satu pertanyaan penting yang patut diajukan ketika Indonesia memasuki era baru pengelolaan aset negara melalui Danantara: untuk apa kekayaan negara dikelola dan diarahkan?

Danantara Ciptakan Ekonomi Hijau via Pelindo

Konsep green port generasi baru harus bergerak menuju green economic hub—pelabuhan yang menjadi pusat pertemuan antara energi bersih, logistik rendah karbon, digitalisasi, ekonomi sirkular, industri hijau, dan pemberdayaan masyarakat. Pelindo sendiri sebenarnya telah memiliki sejumlah fondasi ke arah tersebut.

Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, Pelindo melaporkan penggunaan On-Shore Power Supply (OPS) di Tanjung Priok, pengembangan PLTS dengan kapasitas terpasang 1.268 kWp, serta pemanfaatan teknologi hibrida berbasis baterai. Pelindo juga melaporkan bahwa OPS pada tingkat adopsi saat ini dapat mengurangi konsumsi bahan bakar kapal sekitar 30–33 persen.

Pada September 2026, Pelindo juga meluncurkan layanan OPS di Tanjung Priok. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, penggunaan OPS diperkirakan dapat mengurangi emisi gas buang kapal hingga 75 persen dan sekaligus mengurangi emisi lokal seperti NOx, SOx, serta partikulat selama kapal menggunakan pasokan listrik darat.

Artinya, fondasi transformasi sebenarnya sudah ada. Yang dibutuhkan berikutnya adalah scale-up. Di sinilah Danantara dapat masuk bukan sebagai operator pelabuhan, melainkan sebagai pengarah modal, katalis investasi, dan pembangun ekosistem.

Danantara sebagai Green Capital Allocator

Teori modern mengenai sustainable finance telah mengubah cara melihat modal. Modal tidak lagi semata-mata dipandang sebagai instrumen untuk memperoleh keuntungan finansial, tetapi juga sebagai instrumen untuk mengelola risiko jangka panjang.

OECD telah menekankan bahwa sovereign wealth funds semacam Danantara ini memiliki posisi penting dalam transisi rendah karbon karena besarnya modal yang dikelola dan kemampuan mereka melakukan investasi jangka panjang. Salah satu jalurnya adalah investasi pada aset rendah karbon dan teknologi bersih, serta keterlibatan aktif dengan perusahaan portofolio untuk menurunkan emisi. Konsekuensinya bagi Danantara cukup jelas.

Setiap investasi strategis tidak cukup dinilai berdasarkan pertanyaan:

“Berapa return-nya?”

Tetapi juga:

“Berapa emisinya?”

“Berapa risiko iklimnya?”

“Apa dampaknya terhadap masyarakat?”

“Bagaimana pengaruhnya terhadap biodiversitas?”

Dan yang paling penting:

Berita Terkait