Catatan Dahlan Iskan

Durian Jonathan

Medan. Saya hanya punya waktu me time dua jam di Medan Rabu sore lalu. Yakni setelah tampil di depan 500 lebih nasabah Bank Permata di sana. Pilihan untuk memanfaatkannya hanya dua: ke Ucok atau ke Si Bolang --dua-duanya restoran khusus durian.

Durian Jonathan

Apa boleh buat. Ambil satu. Dibuka. Benar-benar black thorn. Local black thorn. Saya memakannya dengan cara black thorn: diisap lembut, dirasakan di mulut, dibiarkan beberapa detik di lidah --seperti makan es krim di Taman Alice. Lama-lama habis.

Sebenarnya mau ambil lagi. Tapi tidak tega: yang antre di dekat sisa yang empat itu lebih dari lima orang.

Masih punya sisa waktu me time satu jam lagi. Mendung Medan menggelayut hitam. Di sana hujan sudah datang mendahului Riau, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Dedaunan pohon sudah tampak hijau sampai pun rumput di bawahnya. Setelah dari Sulawesi yang kerontang mata terasa sejuk dengan hijaunya Medan.

Dari pada kehujanan lebih baik balik hotel. Saya minta dilewatkan Lapangan Merdeka. Memutarinya. Sudah bagus. Penataan lapangan Merdeka saya anggap berhasil.

Saya putuskan balik ke hotel: saya masih punya utang: hari itu belum olahraga.

Itu gara-gara paginya harus ke bandara sebelum matahari terbit. Maka kini saatnya bayar utang.

Saya pun menuju gym-nya: di lantai 17. Ramai. Saya cari ruang yang biasa untuk yoga. Di situ enak untuk senam dansa. Ruangnya tidak terlalu besar --musik dari HP pun cukup terdengar keras oleh kaki saya.

Tapi .. ups... ruang yoga itu ramai sekali. Riuh. Saling teriak. Mereka tidak yoga. Mereka main pingpong di ruang itu. Satu meja pingpong dipakai bergantian. Ketika buka pintu saya ditawari untuk pingpong melawan mereka. Saya lirik kualitas permainan mereka: kelas Arwana Jaya semua. Saya minder. Dan lagi niat saya ke situ memang untuk senam dansa.

Di ujung ruangan terlihat ada panggung. Mungkin biasa dipakai guru yoga untuk mengajar. Di situlah saya memutar lagu untuk senam. Kaki saya mendengarkan lagunya dengan susah payah: kalah nyaring dengan teriakan-teriakan pemain pingpong yang puas bisa mengecohkan bola ke lawannya.

Sore itu saya senam sendirian --tapi rasanya seperti senam dengan seribu orang.

Komunitas pingpong di Medan ternyata fanatik. Mereka membeli sendiri meja pingpong itu. Sesi pingpong mereka berakhir sebelum saya menyudahi semi aerobik. Meja pingpong itu dilipat. Ditaruh rapi di sudut ruangan --untuk besok lagi.

Malam itu acaranya berat: prospek ekonomi ke depan. Pembicaranya ahli keuangan dari Verdhana: Heriyanto Irawan dan fund manager dari Trimegah Jakarta. Heriyanto belum lama pulang dari Beijing. Ia mendampingi Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut B. Panjaitan menemui Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Saya mencermati pembicaraan mereka: keadaan ekonomi ke depan tidak mudah bagi pengusaha.

Siangnya ada juga pertanyaan mengenai ekonomi ke depan bagi pengusaha di Medan. "Pengusaha itu keadaan sulit harus dibuat mudah. Keadaan mudah harus dibuat sulit," kata saya. "Pengusaha itu tetap berusaha dalam keadaan seperti apa pun," tambah saya.

Malam itu, pengusaha Medan yang terkenal se Indonesia duduk di sebelah saya: Jonathan Junus. Masih muda. Ia juga nasabah lama Bank Permata. Ayahnya menyekolahkan Jonathan ke Amerika. Lulus dari North Carolina ia mencoba jadi pengusaha di sana. Kesimpulannya: masih lebih mudah jadi pengusaha di Indonesia.

Jonathan pun pulang ke Medan. Ayahnya punya pabrik yang bisa membuat pabrik. Semua pengusaha sawit tahu perusahaan itu: mampu membuat PKS --pabrik kelapa sawit. Terutama boilernya.

Berita Terkait