Palung Langit
Dalam satu minggu kemarin saya membaca dua ulasan buku baru, yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Saya pun tidak mampu membacanya: ditulis dalam bahasa Arab
Apakah buku yang ditulis Kiai Miftah itu tergolong baru? Ternyata tidak. Sudah banyak buku serupa terbit di banyak negara Islam.
Kiai Zulfa sendiri sudah menulis empat buku. Semuanya tentang ushul fikih. Padahal kiai Zulfa ''hanya'' tamatan Aliyah (SMA). Kemampuan bahasa Arabnya luar biasa. Sampai ia mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Yakni doktor dalam sastra Arab. Itu tentu istimewa: Kiai Zulfa tidak pernah sekolah di negara Arab. Aliyahnya ia selesaikan di Pati, satu kelas dengan Gus Rozin yang juga terpilih sebagai Rais Syuriah PBNU.
"Kelemahan buku karya ulama-ulama Indonesia adalah kurang memasukkan konteks Indonesia," ujar Kiai Zulfa yang ceramah-ceramahnya sangat sejuk –lebih banyak mengungkap sisi persamaan NU dan Muhammadiyah dari pada sisi perbedaannya.
Satu tokoh lagi yang mengulas buku itu adalah KH Imam Jazuli, pendiri pondok pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon. Kiai Jazuli alumnus Mesir.
"Bagi kaum awam, ilmu nahwu hanyalah sekadar ornamen tata bahasa. Ia sekadar aturan agar lisan fasih mengeja bait-bait Arab. Namun, di bawah guratan pena Kiai Miftach, Nahwu menjelma menjadi suluk. Beliau menegaskan bahwa kefasihan lisan wajib bersanding dengan kefasihan tindakan (hlm.3-5). Pandangan sufistik ini menampar wajah buram panggung politik nasional kita. Para pemimpin kita hari ini terlalu gemar bersilat lidah. Mereka kerap terjebak dalam labirin retorika kosong tanpa makna", tulisnya.
"Kiai Miftach kemudian membedah trilogi kata dengan pisau bedah tasawuf. Beliau mengulas unsur 'isim', 'fi'il', dan 'huruf' dalam tata bahasa ke ruang publik. Isim dimaknai sebagai ketulusan orientasi menghamba kepada Tuhan Yang Maha Esa (hlm.28). Madzhab ini mewajibkan pengelolaan bumi demi tegaknya keadilan sosial yang merata. Berkah nikel dan tembaga bukanlah hak milik privat para oligarki. Hasil bumi harus dialirkan murni untuk membasuh dahaga kemiskinan rakyat".
"Sementara Fi'il ditafsirkan sebagai jihad membersihkan batin dari kekotoran (hlm.29). Dalam urusan bernegara, ini adalah gerakan pembersihan birokrasi secara radikal. Indonesia mustahil memeluk predikat negara maju jika penyakit korupsi mewabah. Tobat nasuha para pengambil kebijakan menjadi syarat mutlak kebangkitan bangsa. Ikhtiar ekonomi hijau hanya tegak jika ketamakan manusia berhasil diredam. Tanpa moralitas, regulasi secanggih apa pun hanyalah bangkai tanpa nyawa.
Sedangkan Huruf digambarkan sebagai ufuk cita-cita tinggi yang wajib diperjuangkan (hlm.30). Menjadi bangsa digdaya adalah mimpi kolektif yang menuntut tebusan pengorbanan. Demi menjemput asa itu, Kiai Miftach merajut filosofi huruf-huruf Jarr (hlm.44-47). Rangkaian huruf jarr ini adalah cermin dinamis perjalanan spiritualitas bangsa. Tiap jengkal fase pembangunan menyimpan ujian dan keunikan batin tersendiri. Kita mesti mengarungi tiap anak tangga itu dengan zikir kesadaran".
Itulah kelebihan bahasa Arab. Bahasa sekaligus keyakinan.
Di Tarim, Yaman, saya kali pertama melihat buku yang bisa dibaca dari kiri, dari kanan, dari atas, dari bawah yang masing-masing menjadi sebuah buku yang berbeda topiknya.
Baca Juga
Rasanya hanya bahasa Arab yang bisa dibuat begitu. Atau, karena bahasa Arab terkait dengan keyakinan, maka orang-orang yang mendalami bahasa Arab bisa sangat dalam.
Kalau dalam penguasaan bahasa Mandarin ada istilah ''di atas langit masih ada langit'', dalam bahasa Arab harusnya ada pepatah ''di kedalaman palung masih ada palung yang lebih dalam''.
Entahlah di mana posisi Bahasa Inggris dan Indonesia. (Dahlan Iskan)