Catatan Dahlan Iskan

Mister HH

Di depan gerai Cap Tikus saya disalami penumpang yang akan satu pesawat menuju Makassar. Kami memang sama-sama mengejar pesawat terpagi dari Manado.

Mister HH
Bersama dan Heston Harper De Yong di bandara Sam Ratulangi, Manado.--

Tapi belakangan perkembangan itu meroket. "Awalnya untuk mencapai lima persen pertama diperlukan waktu 10 tahun. Tapi setelah mencapai lima persen untuk ke-25 persen hanya perlu waktu 5 tahun," ujar Double H.

Hebatnya, charging milik Gigatons dipasok dari listrik tenaga matahari. Untuk itu Gigatons punya ''perkebunan'' solar cell sendiri. Solar farm-nya tidak harus berdekatan dengan stasiun charging-nya. Di sana itu memungkinkan. Transmisi listrik milik swasta. Pemilik bisa menyewakan atau menjual sebagian kapasitasnya untuk orang lain.

Misalnya: transmisi itu bisa mengalirkan listrik 100 MW. Bisa saja pemiliknya menjual ''kapasitas'' yang 10 MW ke orang lain. Yang 20 MW lagi ke orang lain lagi, dan seterusnya.

Itu yang tidak bisa terjadi di Indonesia: semua transmisi milik PLN. Tidak ada aturan yang bisa memperbolehkan PLN menjual atau menyewakan kapasitas transmisi. Inilah salah satu faktor yang membuat tenaga surya kurang berkembang di Indonesia. Mau tidak mau produsen listrik tenaga surya harus menjual listrik ke PLN. Ini yang juga tidak mudah.

Gigatons tidak sekadar menyewa jaringan. Ia membeli kapasitas jaringan. Dengan cara itu Gigatons bisa mengalirkan listrik dari solar farm-nya sendiri ke charging station miliknya sendiri lewat transmisinya sendiri.

Negara itu untuk bisa maju ternyata punya syarat: pemerintahnya punya logika yang sama dengan akal sehat rakyatnya.

Berita Terkait