Catatan Dahlan Iskan . 21/09/2026, 06:37 WIB

Mister HH

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana
Editor : Esnoe Faqih Wardhana

Ia pun menjawab dalam bahasa Arab.

Kepindahannya ke UAE diajak orang tuanya yang kembali berjuang dari titik nol. Saat meletus perang Yom Kippur (Israel lawan Mesir) tahun 1973 ayahnya bangkrut. Perangnya di gurun Sinai, yang bangkrut di Inggris. Waktu itu terusan Suez ditutup. Pasok energi mampet. Bisnis ayahnya ikut sulit.

Sang ayah digambarkan sangat miskin. Sampai waktu remaja berhenti sekolah: belajar bekerja. Lalu ikut bengkel pembuat huruf untuk identitas toko. Ia pun menjadi ahli. Lalu bikin perusahaan sendiri. Terus berkembang. Sampai menjadi yang terbesar di Inggris di bidangnya.

Setelah bangkrut sang ayah mengajak anaknya ke Amerika. Jadi imigran di sana. Di Amerika sang ayah bertemu dengan teknologi baru: solar cell. Ternyata nun di tahun 1970-an Amerika sudah punya industri solar cell. Aneh. Sekarang dilindas Tiongkok.

Sang ayah jatuh cinta pada solar cell. Itu karena sang ayah sangat membenci minyak bumi: gara-gara tergantung pada minyak bumi begitu terusan Suez ditutup usahanya bangkrut. Sang ayah yakin masa depan energi dunia ada di tenaga matahari.

Ayah Double H pun mendalami seluk beluk solar cell. Lalu berusaha untuk menjadi pemegang lisensi teknologi solar cell Amerika untuk Timur Tengah. Logikanya, di Arab banyak matahari. Logika itulah yang membawa mereka ke Uni Emirat Arab.

"Ayah saya membangun rumah di Ras Al Khaimah," katanya. Itu kota terkenal yang terletak di pantai indah dekat Dubai. Di situlah masa kecilnya. Ia menjadi akrab dengan laut.

Bahkan ia menjadi akrab dengan anak-anak Arab sesama teman sekolahnya. Salah satu teman sekelasnya kini jadi penguasa di negara itu. Kalau ia ke UEA sudah punya network penting di sana.

"Rumah ayah saya di Al Khaimah menjadi rumah pertama yang menggunakan solar cell," ujar Double H.

Lewat solar cell itulah sang ayah menemukan bisnis baru. Sebenarnya logika itu tidak ketemu: harga minyak di sana sangat murah. Melimpah. Sedang solar cell masih sangat mahal. Apalagi di tahun-tahun 1980-an.

Tapi sang ayah melihat ceruk dalam yang tidak dilihat orang lain. Di sana minyak mentah itu dialirkan lewat pipa yang panjangnya ribuan kilometer –melalui gurun pasir pula. Jauh dari sumber listrik. Padahal di setiap sambungan pipa memerlukan perawatan khusus. Di setiap sambungan itulah sang ayah membangun listrik tenaga matahari.

Tiba di generasi kedua harga solar cell kian murah. Pun harga baterai. Kalau dilihat dari kacamata tahun 1980-an harga solar cell dan baterai saat ini sama dengan tidak ada harga lagi.

Generasi kedua Gigatons juga melihat mobil listrik mulai lahir di bumi. Itu berarti memerlukan charging station. Gigatons membangunnya di Inggris. Awalnya dianggap gila tapi sekarang neracanya sudah biru.

"Sekarang ini sudah ada 3 juta mobil listrik di Inggris," katanya.

Ia ingat awal-awal merintis bisnis charging: betapa sulitnya. Betapa lambat perkembangan mobil listrik di Inggris. Apalagi setelah subsidi mobil listrik dicabut.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id