Catatan Dahlan Iskan . 15/09/2026, 05:38 WIB
Purbaya sangat jeli mengintip slempitan-slempitan di mana saja ada uang disimpan. Termasuk slempitan-nya Bank Indonesia.
Ia ambil uang-uang itu. Ia paksa salurkan ke bank pelaksana. Ia tidak peduli mana uang mati dan mana uang cadangan. Pokoknya uang harus beredar.
Hasilnya: mengecewakan. Pertumbuhan ekonomi memang sempat 5,6 persen (kuartal pertama 2026) tapi kemudian turun lagi jadi 5,3 persen (kuartal kedua).
Padahal ia sangat optimistis tahun 2026 ekonomi bisa tumbuh 6 persen, lalu tahun 2027 bisa 7 persen dan di tahun terakhir kepresidenan Prabowo bisa seperti yang diambisikan: 8 persen. Melihat perjalanan tahun 2026 angka-angka itu kian seperti fatamorgana.
Presiden Prabowo kehilangan waktu lagi satu tahun untuk mengejar target-targetnya. Tapi setidaknya kita pernah berjudi dengan teori ''gelontor uang''-nya.
Orang juga masih akan mengenang Purbaya sebagai yang sangat serius melakukan de-bottle necking untuk macetnya persoalan-persoalan riil di masyarakat akibat birokrasi yang ruwet.
Saya belum tahu akan ke mana Purbaya setelah ini. Yang jelas harus memperhatikan kesehatannya –agar kalau ada kesempatan lagi kelak gula darahnya bisa diajak kerja keras lagi. Kesempatan Purbaya bisa jadi apa saja pernah terbuka lebar: angka popularitasnya sempat mengejar Kang Dedi Mulyadi, gubernur Jabar.
Setidaknya pula ITB boleh bangga: pernah satu kali alumnusnya menjabat menteri keuangan. Tidak dari Universitas Indonesia melulu.
Mulai kemarin kursi menteri keuangan itu kembali ke UI: Presiden Prabowo melantik Prof Suahasil Nazara, alumnus UI, sebagai menteri keuangan yang baru. Teman-temannya memanggilnya Prof Sua: asli Nias. SMA-nya di Pangudi Luhur, Jakarta --satu sekolahan dengan Menkes Budi Sadikin, mantan Menkeu-Gubernur BI Agus Martowardojo dan CEO Danantara sekarang ini: Rosan Roeslani.
Mungkin era gegap gempita di Kemenkeu ikut berakhir. Prof Sua adalah anak buah andalan Menkeu Sri Mulyani yang tidak banyak cakap. Mungkin juga, karena pernah dekat dengan Sri Mulyani, Prof Sua kurang terlihat di mata Purbaya. Meski Pror Sua saat itu wamenkeu kepercayaan Purbaya lebih pada wamenkeu satunya: Juda Agung.
Prof Sua boleh dikata seorang teknokrat murni. Tidak terlihat arah politiknya ke mana. "Saat saya aktif di Dewan Ekonomi Nasional, Prof Sua adalah tim ''Dapur DEN'' yang andal," ujar Prof Dr Didik J. Rachbini, rektor Universitas Paramadina. Itu di era kepresidenan SBY periode kedua yang ketua DEN-nya pengusaha besar Chairul Tanjung. "Beliau juga pernah menjabat di bidang fiskal tapi keahlian beliau yang terutama adalah ahli pengentasan kemiskinan. Itu dekat juga dengan fiskal," ujar Prof Rachbini.
Prof Sua, menurut sumber Disway, sebenarnya tidak ingin jadi menteri. Dan itu wajar. Menjabat menkeu saat ini apa enaknya. Beban bayar bunga saja Rp 600 triliun setahun. Subsidi energinya bisa Rp600 triliun juga. Belum lagi bagaimana bisa ''melayani" keinginan Presiden Prabowo yang serbabesar dan serbacepat.
"Yang diperlukan saat ini bukan hanya teknokrat. Tapi teknokrat-politisi," ujar Prof Rachbini. Yakni teknokrat yang teguh dengan prinsip keteknokratannya tapi lentur dalam menyikapi keinginan politisi (baca: presiden).
"Lentur" yang dimaksud adalah mampu meyakinkan atasannya untuk disiplin fiskal tapi tidak terlihat menolak, melawan atau menggurui. Ibarat "iya, iya, tapi tidak iya". 'Tidak iya'-nya itu harus tanpa terasa ''tidak iya''.
Prof Sua bisa belajar dari mentor lamanya: Sri Mulyani. "Di akhir-akhir karir beliau Sri Mulyani bisa berubah dari hanya teknokrat menjadi teknokrat-plus seperti itu," ujar Prof Rachbini.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id