Catatan Dahlan Iskan

Eksklusif Mati

Misteri hilangnya lima wartawan, satu pemandu, dan dua kru long boat di sekitar Anak Krakatau belum juga terkuak.

Eksklusif Mati
Erupsi Gunung Anak Krakatau

Oleh: Dahlan Iskan

Misteri hilangnya lima wartawan, satu pemandu, dan dua kru long boat di sekitar Anak Krakatau belum juga terkuak.

Sabtu pagi ini hari keenam mereka tanpa kabar berita. Tidak banyak kemungkinan besarnya: cuaca lagi baik.

Lihatlah foto utama di artikel ini. Begitu cerah. Foto itu diambil oleh pemandu: Heriyanto. Lalu dikirim ke istrinya: sekitar pukul 18.00. Saya mendapatkan foto itu dari Pak Kades Sukajadi, Sandi Wyasa. Pak Sandi mendapatkan foto itu dari istri Heriyanto.

Maka kesimpulan pak Sandi, rombongan wartawan itu sudah selesai menjalankan tugasnya: meliput dari dekat letusan Anak Krakatau yang sampai membuat bandara sevital Soekarno-Hatta Jakarta tutup dua hari. "Berarti mereka sudah dalam perjalanan pulang dari lokasi," ujar Pak Sandi.

Pak Sandi adalah juga pemilik long boat yang dicarter wartawan itu. Ia punya dua long boat. Namanya Arupadhatu 1 dan Arupadhatu 2. Yang belum ada kabarnya itu Arupadhatu 1 –artinya: alam tak berbentuk.

Satu long boat bisa untuk 10 penumpang.

Hari itu long boat-nya hanya diisi delapan orang: lima wartawan (Bagus Khoirunnas dari pewarta foto ANTARA, Ari Basuki dari pewarta foto Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni dari pewarta foto freelance), pemandu Heriyanto dan dua kru: Warta si kapten kapal dan Surakman anak buah kapal.

Berarti tidak ada kemungkinan kelebihan muatan.

Kemungkinan akibat mesin mati juga tipis. Long boat ini bermesin ganda. Masing-masing 40 PK. Dua-duanya merek Yamaha –merk yang mendominasi mesin speed boat. Satu mesin mati masih ada satu lagi.

Akibat menabrak sesuatu? Rasanya juga kecil. Cuaca masih sangat terang. Pukul 18.00 di Selat Sunda masih tergolong terang. Tapi kalau mau lebih aman baiknya jangan naik speed boat terlalu senja. Sesuatu yang mengapung di laut bisa terlihat seperti gundukan gelombang kecil.

Sebenarnya terlalu sore. Mereka baru berangkat pukul 14.00 tanggal 7 September lalu. Tapi karena mereka wartawan foto kelihatannya sengaja ingin sampai di lokasi menjelang senja: agar pencahayaan fotonya terbaik. Kian dekat senja kian tinggi kualitas pencahayaannya. Berarti mereka sangat mementingkan kualitas hasil fotografinya daripada keselamatan mereka sendiri.

Pak Sandi pun sulit memperkirakan apa penyebab kuatnya. Semoga long boat itu hanya terbawa arus jauh ke tempat yang sulit melakukan komunikasi.

Saya menghubungi Pak Sandi senja kemarin. Ia sudah hampir lima tahun menjadi kepala desa Sukajadi. Desa itu dekat dengan pantai Carita. Ada satu sungai di desa Sukajadi yang bermuara di pantai Carita. Di sungai itulah speed boat dan long boat "parkir" menunggu panggilan dari turis. Setelah jam keberangkatan ditentukan, long boat dibawa ke pantai Carita: berangkat ke tujuan wisata dari dermaga Carita. Jarak pangkalan long boat di sungai itu ke dermaga Carita hanya sekitar 250 meter.

Berita Terkait