Teknokrat Plus
Pendek sekali umur kebijakan ''baru'' di bidang keuangan kita: hanya satu tahun. Walhasil setidaknya satu teori ''baru'' sempat dicoba di Indonesia: kebijakan memompa peredaran uang di masyarakat.
Oleh: Dahlan Iskan
Pendek sekali umur kebijakan ''baru'' di bidang keuangan kita: hanya satu tahun. Walhasil setidaknya satu teori ''baru'' sempat dicoba di Indonesia: kebijakan memompa peredaran uang di masyarakat.
Tokoh uji coba itu Anda sudah tahu: Purbaya Yudhi Sadewa. Yang setahun lalu dipercaya oleh Presiden Prabowo untuk menjadi menteri keuangan di kabinetnya. Ia menggantikan ''ratu'' fiskal Indonesia, Sri Mulyani. Senin kemarin, tak disangka-sangka Purbaya diberhentikan dari jabatannya.
Tokoh terdepan pengkritik Purbaya, Anda sudah tahu: Ferry Latuhihin. Ia pernah sama-sama Purbaya 25 tahun bekerja di perusahaan keuangan Danareksa. Ia sampai menantang Purbaya berdebat soal kebijakan-kebijakannya.
Latuhihin pun merasa ''dikerjai'' ketika ada petugas pajak ingin mengusut ketaatan pajaknya. Ada sangkaan Latuhihin tidak bayar pajak mobil-mobil mewahnya. Akan diusut. Latuhihin tidak gentar. Tetap sangat kritis kepada Purbaya.
"Purbaya tidak layak menjadi menkeu," katanya. Ahli pasar modal dan pasar uang ini ternyata sudah lama menjual mobil-mobil mewahnya. Ia pernah mengaku kini lebih sering naik busway atau taksi aplikasi.
Setidaknya pula kita pernah punya menteri keuangan yang ''riuh bergemuruh''. Di mana-mana seorang menteri keuangan itu orang yang pelit bicara. Kata-kata seorang menteri keuangan bisa diterjemahkan oleh pelaku ekonomi sebagai ''kebijakan''. Kalau banyak omong bisa berarti begitu banyak kebijakan.
Setidaknya lagi kita pernah punya menteri keuangan yang mencoba memerankan diri sebagai ''superminister'': tidak segan secara terbuka mengkritik menteri lainnya. Bahkan mengancam menteri itu dikenai kebijakan yang akan ia lakukan.
Era Purbaya adalah era gemuruh. Ia begitu yakin bisa dengan mudah membuat pertumbuhan ekonomi tinggi. Caranya: gelontorkan uang kontan ke masyarakat agar di lapisan bawah cukup uang untuk transaksi ekonomi.
Purbaya pernah membeberkan data berulang kali sampai Anda pun mestinya hafal kesimpulannya: kenapa pertumbuhan ekonomi turun di awal masa jabatan Presiden Prabowo? Itu, kata Purbaya, akibat ekonomi sengaja dicekik oleh kebijakan menteri keuangan waktu itu. Paparan data Purbaya begitu meyakinkan: uang beredar terlihat sengaja dibatasi waktu itu. Orang seperti Prabowo pun bisa terprovokasi: mungkin saja antek asing bermain untuk menjatuhkan namanya. Sabotase.
Baca Juga
Maka Purbaya punya resep ampuh untuk memuaskan ambisi Presiden Prabowo yang menginginkan pertumbuhan ekonomi sampai delapan persen. Semua ahli pesimistis dengan keinginan itu –kecuali Purbaya.
Maka siapa yang tidak terpikat oleh teori Purbaya yang ia serap dari gurunya, seorang profesor ekonomi dari Purdue University, Indiana: John A. Carlson itu.
Purbaya tidak hanya bicara teori. Ia juga memaparkan data masa lalu, pun data pengalaman di Amerika.
Purbaya seorang peneliti ekonomi. Ibarat seorang dokter ia ahli patologi yang hidupnya di lab penyakit. Ia bukan seorang dokter klinis yang tiap hari menangani pasien.
Maka Purbaya bergegas melaksanakan teori ''gelontor uang'' ke pasar. Bank-bank ia tekan habis. Uang harus deras mengalir ke masyarakat.