Catatan Dahlan Iskan . 14/09/2026, 05:43 WIB

PISA BBM

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana
Editor : Esnoe Faqih Wardhana

Itu sama dengan diskusi pengusaha tanpa riba bulan lalu: berutang menambah beban, tidak berutang tidak berkembang.

Tapi setidaknya harus ada target nasional: siswa kelas tiga SD/Ibtidaiah sudah harus bisa membaca. Bukan hanya bisa mengeja. Harus dibedakan antara membaca dan mengeja. Bisa membaca berarti memahami apa yang dibaca.

Kemampuan membaca ternyata menjadi tolok ukur pertama di skor PISA.

Lalu saya bertanya ke ustad Puji Santoso, direktur madrasah taraf internasional kami: Islamic International School Pesantren Sabilil Muttaqin di Magetan. Di Indonesia ada berapa sekolah unggulan yang mutu minimalnya seperti IIS.

"Mungkin ada 1.000 sekolah," kata Puji.

Umumnya swasta. Dulu sekolah bermutu didominasi sekolah Katolik-Kristen. "Sekarang banyak sekali sekolah Islam yang mutunya sangat baik," katanya. Sudah bisa bersaing dengan sekolah-sekolah Katolik. Lalu banyak lagi sekolah swasta non-agama.

Kalau hanya 1.000 sekolah tersebut yang dinilai, maka skor PISA Indonesia bisa 6 juga.

Berarti kalau Indonesia ingin meningkatkan skor PISA perhatikan dulu 1000 sekolah dengan skor terbawah. Fokuskan anggaran dan perbaikan mutu guru untuk 1.000 yang terbawah dulu.

Tapi rasanya kita belum bisa memikirkan itu. Antrean BBM saja masih sulit diatasi.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id