Solusi Alih Daya Bagi BUMN di Era Danantara Menghadapi Tantangan Global
Di tengah derasnya arus globalisasi dan tekanan efisiensi, BUMN kita sedang berada di persimpangan. Di satu sisi negara menuntut BUMN menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, penopang layanan publik, dan agen pembangunan.
Pertama, peta fungsi inti vs non-inti harus jelas. Jangan sampai fungsi strategis ikut dialihkan.
Kedua, kualitas penyedia jasa harus diuji. Bukan asal murah.
Ketiga, perlindungan pekerja harus dijamin. Alih daya bukan alasan untuk merampas hak.
Keempat, pengawasan dan evaluasi harus ketat. Karena bagaimanapun, tanggung jawab akhir tetap di pundak BUMN.
Saatnya BUMN Jadi Petarung Global
Tahun 2026 akan menjadi tahun ujian. Tuntutan tata kelola makin tinggi, persaingan makin sengit, dan teknologi bergerak makin cepat. BUMN tidak bisa lagi menjadi organisasi besar yang lamban.
Yang kita butuhkan adalah BUMN yang gesit, efisien, profesional, dan inovatif. Dan untuk sampai ke sana, kita perlu keberanian untuk mendelegasikan.
Alih daya, jika dirancang dengan benar, bukan bentuk pelepasan tanggung jawab. Ia adalah cara cerdas agar BUMN bisa fokus pada hal yang paling penting: melayani rakyat dan bersaing di panggung global.
Di era Danantara, mari kita ubah cara pandang. Outsourcing bukan soal mengurangi, tapi soal menguatkan. Bukan soal memotong, tapi soal memfokuskan. Karena pada akhirnya, BUMN yang hebat bukanlah BUMN yang mengerjakan semuanya sendiri.
BUMN yang hebat adalah BUMN yang tahu persis apa yang harus ia kerjakan sendiri, dan apa yang harus ia percayakan kepada yang terbaik di bidangnya.(*)
*Penulis adalah pengamat kebijakan publik dan ekonomi.