Catatan Dahlan Iskan . 11/09/2026, 05:37 WIB

Target Selawat

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

"Kapan bermalam di sini lagi?" tanya Kiai Basir saat saya telepon kemarin.

Saya memang pernah bermalam di pesantren Darul Falah ketika menjabat sesuatu dulu. Waktu itu pun Kiai Basir sudah 'berpraktik' memberi ijazah Dala'il. Sudah ribuan.

Praktik memberi ijazah Dala'il itu sudah dilakukan di Darul Falah sejak kakeknya dulu: juga seorang kiai. Dilanjutkan oleh bapaknya: juga kiai. Lalu 'diwariskan' ke kiai Basir.

Seorang kiai tidak dipercaya bisa memberikan ijazah kalau tidak pernah ''dibai'at'' sebagai pemberi ijazah oleh kiai pemberi ijazah sebelumnya.

Ijazah 'Dala'il' bertingkat-tingkat. Ada yang sekadar setelah pembacaan selawat Dala'il selama tujuh hari. Ada yang sebelum itu harus puasa dulu sekian hari. Ada yang puasanya sampai 40 hari. Bahkan ada ijazah Dala'il yang baru diberikan kalau Anda sudah berpuasa selama tiga tahun.

Dulu Gus Basir menjalani semua protokol yang terberat itu. Lalu jadilah ia kiai. Kemudian diberi wewenang untuk memberi ijazah.

Kata ''ijazah' sudah dikenal berabad-abad lalu di dunia sufi Islam. Lalu diadopsi oleh sistem pendidikan modern dengan nama ijazah --sebagai tanda telah tamat sekolah.

Salah satu yang mendapat ijazah Dala'il dari Kiai Basir adalah Imam Jazuli. Bukan sembarang ijazah. Imam Jazuli dapat jazah setelah menamatkan bacaan Dala'il yang didahului tirakat dan puasa selama tiga tahun. Sekarang Imam Jazuli menjadi kiai terkenal di Cirebon. Pesantrennya, BIMA, sangat terkenal. Alumni pesantren BIMA 100 persen diterima kuliah di luar negeri: Mesir, Maroko, Jerman dan kini Tiongkok. Di forum debat santri dalam bahasa Mandarin yang dilaksanakan Disway Ahad lalu BIMA mengirim 30 santri.

Belakangan Kiai Imam Jazuli juga sudah dipercaya memberikan ijazah Dala'il bagi siapa saja. Yakni yang sudah menjalankan protokol Dala'il. Sistemnya sudah sangat modern. Anda bisa mendaftar lewat aplikasi.

Terakhir pemberian ijazah Dala'il dilakukan Imam Jazuli dalam satu acara besar di hotel bintang empat di Cirebon: ribuan orang.

Sejak kecil Kiai Jazuli memang diinginkan jadi kiai. Ayahnya selalu menekankan untuk sering-sering membaca Dala'il lengkap dengan seluruh protokol terberatnya: termasuk puasa selama tiga tahun. Ia pernah tergoda mendalami ilmu kesaktian di Banten tapi ayahnya melarang diteruskan. "Saya khawatir kamu nanti jadi dukun," kata sang ayah. "Kamu sendiri saya beri nama belakang Jazuli supaya bisa seperti penulis kitab Dala'il," ujar sang ayah. Anda sudah tahu siapa penulis Dala'il: Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli --ulama Maroko dari suku Jazulah abad ke 15.

Ada lagi pembawa selawat yang sangat terkenal. Dari Solo. Anda pasti sudah tahu namanya: Habib Syech. Inilah selawat jenis pop. Dilagukan. Pakai alat musik tepuk. Larisnya bukan main.

Kalau Anda ingin mendatangkan Habib Syech bisa-bisa harus antre dua tahun. Saya termasuk yang sering hadir di pelantunan selawat Habib Syech. Biasanya saya diminta duduk di panggung, di sebelahnya.

Begitu banyak pengagum Habib Syech sampai mereka membentuk organisasi dengan nama Syecher Mania. Saya pernah diangkat secara informal sebagai ketua nasional Syecher Mania.

Selawatnya Habib Syech bukan Dala'il. "Buku selawat yang saya rutinkan baca adalah maulid Simtud Duror dan Burdah," ujar Habib Syech kemarin.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id