Internasional . 06/09/2026, 09:52 WIB
Secara ilmiah, manusia umumnya lebih mampu bertahan tanpa makanan dibandingkan tanpa air. Ketahanan seseorang sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, kondisi kesehatan, usia, tingkat aktivitas, cedera, serta ketersediaan air.
Dalam kasus Chandika, belum ada keterangan resmi mengenai sumber air, makanan, kondisi ruang, atau cedera yang dialaminya selama terjebak. Karena itu, tidak dapat dipastikan bagaimana ia mempertahankan kehidupannya selama 10 hari.
Namun, terdapat beberapa faktor yang secara umum dapat meningkatkan peluang korban bertahan di dalam bangunan tertimbun. Rongga udara dapat mencegah korban mengalami kekurangan oksigen, sedangkan rembesan air dapat membantu mengurangi risiko dehidrasi. Struktur bangunan yang masih bertahan juga dapat menjadi pelindung dari tekanan lumpur dan batu.
Suhu di dalam ruang tertutup turut menentukan kondisi tubuh. Suhu yang terlalu rendah dapat menyebabkan hipotermia, sedangkan suhu tinggi mempercepat kehilangan cairan. Korban lanjut usia biasanya menghadapi risiko lebih besar karena kemampuan tubuh mengatur suhu dan menjaga keseimbangan cairan telah menurun.
Kasus Chandika menunjukkan bahwa batas waktu pencarian tidak selalu dapat ditentukan secara mutlak. Walaupun kemungkinan menemukan korban hidup cenderung menurun seiring berjalannya waktu, kondisi ruang tempat korban terjebak dapat menciptakan peluang bertahan lebih lama.
Pada hari yang sama, seorang warga negara China bernama Lu Haitao juga ditemukan hidup di dalam terowongan sepanjang 225 meter di proyek pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli-1. Sehari sebelumnya, dua pekerja Nepal berhasil dikeluarkan dari terowongan lain di kawasan Sungai Trishuli.
Rangkaian penyelamatan tersebut memberikan harapan kepada keluarga korban yang masih menunggu kabar mengenai kerabat mereka. Tim Nepal bersama tenaga ahli dari sejumlah negara terus menyisir terowongan pembangkit listrik, bangunan tertimbun, dan kawasan permukiman yang tersapu banjir.
Berdasarkan laporan Reuters hingga 4 September 2026, sedikitnya 1.344 orang telah meninggal di Nepal dan sekitar 4.887 orang masih dinyatakan hilang. Angka tersebut masih dapat berubah karena pencarian dan pendataan terus berlangsung.
Besarnya skala kerusakan turut menghambat operasi penyelamatan. Jalan yang terputus, jembatan yang runtuh, lumpur tebal, serta aliran sungai yang belum stabil menyulitkan petugas menjangkau sejumlah daerah.
Penyelamatan Chandika Kumari Shrestha setelah terjebak selama 10 hari menjadi bukti penting bahwa korban masih mungkin ditemukan hidup meskipun operasi pencarian telah berlangsung lama. Keberadaan ruang udara, perlindungan struktur bangunan, suhu lingkungan, dan kemungkinan akses terhadap air dapat memengaruhi kemampuan seseorang bertahan.
Namun, penyebab pasti Chandika mampu melewati masa kritis tersebut baru dapat diketahui setelah adanya penjelasan dari tim medis dan otoritas Nepal. Fakta yang telah dipastikan adalah ia ditemukan hidup di lantai atas rumah empat lantai yang tertimbun material banjir, kemudian dievakuasi menggunakan helikopter untuk memperoleh perawatan.
Peristiwa ini juga menegaskan pentingnya teknologi pencarian, ketelitian petugas, serta kelanjutan operasi penyelamatan di lokasi bencana. Dalam ilmu kedaruratan modern, menurunnya peluang bertahan tidak berarti seluruh harapan telah berakhir, terutama ketika bangunan yang tertimbun masih memiliki rongga aman.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id