Internasional . 06/09/2026, 09:29 WIB

Langit Makin Panas, Ancam Keselamatan dan Ketepatan Waktu Penerbangan

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

Radar Cuaca Memiliki Keterbatasan

Pesawat komersial dilengkapi radar cuaca yang membantu awak melihat area dengan curah hujan dan aktivitas konvektif di depan pesawat. Jangkauan sistem tersebut dapat mencapai sekitar 320 mil laut atau hampir 600 kilometer, tergantung kondisi dan pengaturannya.

Awak pesawat juga memperoleh informasi dari layanan meteorologi, pengendali lalu lintas udara, laporan pesawat lain, serta sistem prakiraan cuaca secara langsung. Teknologi ini membantu pilot menentukan jalur yang lebih aman di sekitar badai.

Namun, Profesor Guy Gratton, pakar penerbangan dari Cranfield University, menjelaskan bahwa sistem tersebut masih lebih bersifat "taktis daripada strategis". Radar membantu pilot merespons badai dalam penerbangan, tetapi belum selalu dapat memberikan perencanaan jarak jauh yang sangat terperinci.

Sel badai dapat berkembang, berpindah, atau menguat dengan cepat. Pengalihan rute karena badai terkadang baru dapat diputuskan ketika pesawat telah berada dalam penerbangan. Pesawat kemudian harus menempuh jarak lebih jauh dan menggunakan lebih banyak bahan bakar.

Apabila gangguan akibat badai semakin sering, maskapai mungkin perlu membawa bahan bakar cadangan lebih banyak. Beban tambahan tersebut juga meningkatkan konsumsi bahan bakar karena pesawat menjadi lebih berat.

Keterlambatan dan Harga Tiket Bisa Meningkat

Badai intens dapat mengurangi kapasitas ruang udara karena pesawat harus menjaga jarak dari kawasan berbahaya. Beberapa penerbangan yang semula melewati jalur berbeda akhirnya harus menggunakan koridor aman yang sama. Kondisi ini dapat menciptakan antrean di udara dan di darat.

Andrew Charlton, seorang analis penerbangan, memperkirakan pesawat harus memperhitungkan kemungkinan menempuh rute lebih jauh. Menurut dia, kenaikan biaya bahan bakar pada akhirnya dapat diteruskan kepada penumpang melalui harga tiket yang lebih tinggi.

Bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar bagi maskapai. Pengalihan rute, penerbangan tertunda, pendaratan di bandara alternatif, dan pembatalan perjalanan juga menimbulkan biaya operasional tambahan.

Teknologi pengelolaan lalu lintas udara dapat mengurangi sebagian gangguan tersebut. Bandara Heathrow dan Gatwick, misalnya, telah menggunakan sistem yang menghitung jarak waktu antarpesawat berdasarkan kecepatan angin dan jenis pesawat. Sistem ini memungkinkan pengendali menyesuaikan jarak pendaratan dan mempertahankan kapasitas bandara ketika angin kencang terjadi.

Hujan Ekstrem Juga Mengancam Operasional Bandara

Ancaman perubahan iklim terhadap penerbangan tidak hanya muncul di udara. Hujan ekstrem dapat membanjiri landasan pacu, area parkir pesawat, terminal, akses jalan, dan sistem kelistrikan bandara.

Dampak tersebut terlihat ketika hujan sangat lebat melanda Dubai pada April 2024. Landasan pacu Bandara Internasional Dubai sempat ditutup, sementara gangguan penerbangan berlangsung selama dua hari. Lebih dari 1.200 penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu penumpang terdampak.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa bandara modern tetap memiliki kerentanan terhadap curah hujan luar biasa. Sistem drainase biasanya dirancang berdasarkan catatan cuaca masa lalu. Ketika intensitas hujan melampaui asumsi perencanaan, air dapat menggenangi area penting dan melumpuhkan kegiatan operasional.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id