Indonesia Dilanda Karhutla, Kabut Asap Mulai Menyebar ke Malaysia dan Filipina
Indonesia kembali menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang memicu kabut asap di sejumlah wilayah. Dampaknya tidak hanya dirasakan
fin.co.id - Indonesia kembali menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang memicu kabut asap di sejumlah wilayah. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat di dalam negeri, terutama di Kalimantan dan Sumatra, tetapi juga mulai meluas hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.
Laporan BBC News pada Rabu, 3 September 2026, menyebut asap dari kebakaran lahan telah memengaruhi kualitas udara di sejumlah kota di Kalimantan. Kabut asap juga terdeteksi di wilayah Sarawak, Malaysia, serta Palawan di Filipina. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena paparan asap dapat mengganggu aktivitas harian dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Kabut Asap Menebal di Sejumlah Wilayah Kalimantan
Di Kalimantan Selatan, kabut asap dilaporkan terasa di sekitar Banjarmasin dan Banjarbaru. Asap tipis mulai terlihat dari perjalanan menuju pusat kota, sementara bau terbakar dapat tercium cukup kuat di sejumlah lokasi.
BBC melaporkan bahwa udara di Banjarbaru terasa lebih buruk dibandingkan Banjarmasin. Bahkan penggunaan masker dengan tingkat filtrasi tinggi belum sepenuhnya menghilangkan bau asap yang terhirup. Di beberapa ruas jalan, warga terlihat memakai masker, meski sebagian lainnya tetap menjalankan aktivitas tanpa perlindungan pernapasan.
Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di kawasan Guntung Payung, Banjarbaru. Lahan gambut di lokasi tersebut terlihat menghitam setelah terbakar, sementara asap putih masih keluar dari permukaan tanah. Kondisi seperti ini berbahaya karena api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya.
Dalam dua bulan terakhir, kebakaran hutan dan lahan di sekitar Banjarbaru disebut telah menghanguskan sekitar 1.263 hektare area. Sebagian titik kebakaran berada dekat bandara internasional dan kawasan hutan lindung, sehingga berpotensi mengganggu penerbangan serta memperburuk kualitas udara masyarakat.
Titik Panas Meningkat di Kalimantan
Skala karhutla juga terlihat dari jumlah titik panas yang terpantau di wilayah Kalimantan. Kalimantan Tengah dilaporkan memiliki jumlah titik panas tertinggi, mencapai lebih dari 8.500 titik. Kalimantan Barat berada di posisi berikutnya dengan lebih dari 7.600 titik panas, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat sekitar 1.450 titik.
Titik panas tidak selalu berarti seluruh lokasi mengalami kebakaran besar. Namun, temuan tersebut menjadi indikator penting bagi petugas untuk melakukan pemeriksaan langsung dan mencegah api berkembang lebih luas.
Kebakaran lahan gambut menjadi perhatian utama karena material organik di bawah tanah dapat terus membara selama berhari-hari, bahkan ketika api di permukaan tampak sudah padam. Asap dari gambut juga mengandung partikel sangat kecil, terutama PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Partikel PM2.5 diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko iritasi mata, batuk, sesak napas, infeksi saluran pernapasan, hingga memburuknya kondisi penyakit jantung dan paru-paru. Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih besar adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis, dan gangguan jantung.
Baca Juga
Malaysia dan Filipina Mulai Merasakan Dampaknya
Kabut asap tidak berhenti di wilayah Indonesia. Di Sarawak, Malaysia, indeks pencemaran udara di beberapa lokasi dilaporkan berada pada kategori tidak sehat. Otoritas setempat juga menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di sejumlah wilayah, termasuk Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, dan Betong.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa gangguan asap lintas batas dapat memengaruhi pendidikan, mobilitas, layanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi. Pengalaman kabut asap besar pada 2013 dan 2015 membuat sejumlah negara di Asia Tenggara lebih waspada terhadap kemungkinan penurunan kualitas udara yang cepat.