Detektor Bawah Tanah di AS Tangkap Sinyal yang Diduga Berasal dari Materi Gelap
Para ilmuwan menangkap sebuah sinyal langka di laboratorium bawah tanah Amerika Serikat yang diduga berkaitan dengan materi gelap. Temuan tersebut belum bisa
fin.co.id - Para ilmuwan menangkap sebuah sinyal langka di laboratorium bawah tanah Amerika Serikat yang diduga berkaitan dengan materi gelap. Temuan tersebut belum bisa disebut sebagai penemuan pasti, tetapi menjadi petunjuk baru yang menarik dalam pencarian salah satu komponen paling misterius di alam semesta.
Sinyal itu terdeteksi melalui eksperimen LUX-ZEPLIN atau LZ, sebuah detektor partikel berukuran besar yang ditempatkan jauh di bawah permukaan tanah di Sanford Underground Research Facility, South Dakota. Lokasi bawah tanah dipilih untuk mengurangi gangguan dari radiasi kosmik dan partikel lain yang terus datang dari luar angkasa.
Tim yang terlibat dalam penelitian ini mencakup ilmuwan dari University of Bristol, Inggris, bersama ratusan peneliti dan insinyur dari berbagai institusi internasional. Selama dua tahun, mereka menganalisis data dari salah satu detektor materi gelap paling sensitif di dunia.
Satu Peristiwa yang Memicu Harapan Baru
Dalam data yang dianalisis, para peneliti menemukan satu interaksi partikel yang belum dapat dijelaskan secara meyakinkan oleh sumber gangguan yang sudah dikenal. Peristiwa itu melibatkan tumbukan antara atom dan partikel misterius di dalam detektor.
Salah satu kemungkinan yang sedang dipelajari adalah bahwa sinyal tersebut berasal dari Weakly Interacting Massive Particle atau WIMP. WIMP merupakan kandidat partikel yang telah lama diajukan untuk menjelaskan materi gelap. Sesuai namanya, partikel hipotetis ini diperkirakan memiliki massa, tetapi hanya sangat lemah berinteraksi dengan materi biasa.
Karena interaksinya sangat jarang, materi gelap amat sulit ditemukan secara langsung. Para ilmuwan tidak dapat melihatnya dengan teleskop karena materi gelap tidak memancarkan, menyerap, ataupun memantulkan cahaya seperti bintang, planet, dan gas antarbintang.
Dr Sam Eriksen, peneliti utama dari University of Bristol, menyebut hasil ini sebagai kemungkinan langkah awal untuk memahami materi gelap sebagai partikel. Namun, ia dan timnya menekankan bahwa pengamatan tersebut masih memerlukan analisis lanjutan.
“Setelah upaya ilmiah yang sangat besar, ini tentu sangat menggembirakan,” kata Eriksen. Meski demikian, kemungkinan lain tetap terbuka, termasuk bahwa partikel yang memicu sinyal itu ternyata tidak berkaitan dengan materi gelap.
Mengapa Materi Gelap Sangat Penting?
Materi gelap diyakini menyusun sebagian besar materi di alam semesta. Berdasarkan berbagai pengamatan astronomi, materi biasa yang membentuk manusia, planet, bintang, hingga galaksi hanya menyumbang sebagian kecil dari total kandungan kosmos.
Baca Juga
Keberadaan materi gelap disimpulkan dari pengaruh gravitasinya. Misalnya, bintang-bintang di tepi galaksi bergerak terlalu cepat jika hanya dipengaruhi oleh massa materi yang dapat dilihat. Galaksi-galaksi juga tampak memiliki gravitasi lebih kuat dibandingkan jumlah bintang, gas, dan debu yang teramati.
Materi gelap diperkirakan berperan sebagai semacam kerangka gravitasi yang membantu galaksi terbentuk dan tetap terikat. Tanpa komponen tak terlihat ini, model pembentukan struktur besar alam semesta akan jauh lebih sulit dijelaskan.
Namun, hingga kini bukti materi gelap masih bersifat tidak langsung. Para ilmuwan dapat mengukur dampaknya terhadap pergerakan benda-benda langit dan pembelokan cahaya oleh gravitasi, tetapi belum pernah memastikan deteksi partikelnya secara langsung di laboratorium.