Robot Humanoid Mulai Masuk Pabrik, Apakah Pekerja Manusia akan Tergeser?
Robot yang bekerja di pabrik sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Selama puluhan tahun, lengan robot telah digunakan untuk mengelas bodi mobil, memindahkan
AI memungkinkan pendekatan berbeda.
Robot dapat dilatih menggunakan demonstrasi manusia, simulasi komputer, kamera, sensor, serta model AI yang mempelajari hubungan antara objek dan tindakan.
Boston Dynamics, misalnya, mengatakan Atlas akan dikembangkan menggunakan AI foundation model untuk mendukung berbagai pekerjaan industri, terutama di sektor otomotif.
Karena itu, persaingan robot humanoid sebenarnya tidak hanya berlangsung pada aspek mekanik.
Kemampuan motor listrik, baterai, sensor, aktuator, serta tangan robot memang penting. Namun, "otak" perangkat lunaknya menjadi salah satu faktor terpenting.
Robot harus memahami apa yang dilihatnya, menentukan tindakan yang tepat, serta memperbaiki kesalahan tanpa menciptakan bahaya.
Inilah alasan munculnya istilah physical AI atau AI fisik.
AI tidak lagi hanya menghasilkan tulisan, gambar, atau informasi di layar komputer. Sistem tersebut mulai digunakan untuk mengendalikan mesin yang berinteraksi langsung dengan dunia nyata.
Apakah Robot akan Membuat Manusia Kehilangan Pekerjaan?
Kemungkinan jawabannya bukan sekadar ya atau tidak.
Sebagian jenis pekerjaan kemungkinan memang akan berkurang.
Baca Juga
Sejarah otomatisasi menunjukkan bahwa ketika teknologi mampu melakukan pekerjaan tertentu dengan biaya lebih rendah dan produktivitas lebih tinggi, perusahaan cenderung mengadopsinya.
Jumlah robot industri sendiri terus bertambah.
Data World Robotics 2025 dari IFR mencatat sekitar 542.000 robot industri dipasang secara global sepanjang 2024. Jumlah pemasangan tahunan tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sekitar satu dekade sebelumnya.
Namun, meningkatnya penggunaan robot tidak selalu berarti jumlah pekerjaan manusia turun dalam jumlah yang sama.