Mengapa Stonehenge Pernah Disebut sebagai Komputer Prasejarah?
Stonehenge merupakan salah satu monumen prasejarah paling terkenal sekaligus paling misterius di dunia. Susunan batu raksasa yang berdiri di Salisbury Plain
Walaupun teori Stonehenge sebagai komputer prediksi gerhana sekarang banyak ditolak, hubungan monumen tersebut dengan fenomena astronomi bukan sepenuhnya spekulasi.
Salah satu hubungan yang paling jelas terlihat pada titik balik Matahari atau solstice.
English Heritage menjelaskan bahwa Stonehenge dibangun dengan orientasi terhadap pergerakan Matahari. Pada titik balik Matahari musim panas, Matahari terbit pada arah tertentu yang berhubungan dengan sumbu utama monumen.
Hubungan serupa dapat diamati ketika Matahari terbenam pada titik balik Matahari musim dingin.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Neolitikum yang membangun Stonehenge memiliki pengetahuan mengenai pola pergerakan Matahari sepanjang tahun.
Kemampuan tersebut sebenarnya tidak membutuhkan teleskop ataupun teknologi modern. Pengamatan yang dilakukan secara sistematis selama bertahun-tahun dapat membuat masyarakat kuno mengenali perubahan posisi terbit dan terbenamnya Matahari di cakrawala.
Pengetahuan astronomi semacam ini juga mempunyai kegunaan praktis. Pergerakan Matahari dapat membantu masyarakat memahami pergantian musim, sesuatu yang penting bagi komunitas yang bergantung pada pertanian, peternakan, dan siklus lingkungan.
Mengapa Teori Komputer Stonehenge Kini Diragukan?
Perkembangan penelitian arkeologi kemudian menunjukkan sejumlah masalah dalam teori Hawkins.
Salah satu persoalan terbesarnya adalah asumsi bahwa Stonehenge merupakan sebuah struktur terpadu yang dirancang sebagai satu sistem astronomi.
Penelitian modern menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks.
Baca Juga
Menurut arkeolog University College London, Michael Parker Pearson, Stonehenge dibangun melalui beberapa tahap selama periode lebih dari 1.500 tahun.
Artinya, berbagai batu, lubang, dan struktur yang terdapat di kawasan tersebut tidak semuanya dibangun pada waktu yang sama.
Kondisi ini melemahkan gagasan bahwa seluruh bagian Stonehenge dirancang sejak awal sebagai sebuah mesin penghitung astronomi.
Masalah lainnya adalah tingkat ketepatan orientasi terhadap Bulan.