Mengapa Stonehenge Pernah Disebut sebagai Komputer Prasejarah?
Stonehenge merupakan salah satu monumen prasejarah paling terkenal sekaligus paling misterius di dunia. Susunan batu raksasa yang berdiri di Salisbury Plain
Salah satu bagian terpenting dalam teori Hawkins adalah keberadaan 56 lubang yang mengelilingi bagian luar Stonehenge. Struktur tersebut sekarang dikenal sebagai Aubrey Holes.
Hawkins melihat angka 56 sebagai sesuatu yang mempunyai kemungkinan hubungan dengan siklus Bulan.
Ia mengusulkan bahwa lubang-lubang tersebut dapat digunakan sebagai semacam alat penghitung. Dengan memindahkan penanda dari satu lubang menuju lubang berikutnya berdasarkan pola tertentu, masyarakat prasejarah secara teoritis dapat mengikuti siklus astronomi.
Menurut Hawkins, mekanisme sederhana tersebut bahkan memungkinkan mereka memperkirakan kapan gerhana kemungkinan terjadi.
Karena itu, istilah "komputer prasejarah" kemudian melekat pada teorinya.
Namun, komputer yang dimaksud tentu bukan komputer elektronik seperti yang digunakan saat ini. Dalam konteks tersebut, istilah komputer merujuk pada sebuah sistem yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan berdasarkan aturan tertentu.
Dengan pengertian yang sangat luas tersebut, kombinasi lubang, penanda, dan pergerakan berkala dapat dipandang sebagai perangkat penghitung manual.
Mengapa Gerhana Dianggap Begitu Penting?
Bagi masyarakat modern, gerhana Matahari dan Bulan dapat diprediksi dengan sangat akurat menggunakan ilmu astronomi. Namun, bagi masyarakat prasejarah, perubahan mendadak pada Matahari atau Bulan kemungkinan menjadi fenomena yang sangat mengesankan.
Gerhana Bulan, misalnya, dapat menyebabkan Bulan berubah menjadi kemerahan ketika berada di dalam bayangan Bumi. Sementara itu, gerhana Matahari dapat membuat lingkungan menjadi gelap pada siang hari dalam waktu relatif singkat.
Hawkins berpendapat fenomena seperti itu kemungkinan mempunyai arti spiritual bagi masyarakat kuno.
Baca Juga
"Matahari dan Bulan adalah dewa pada masa itu," ujar Hawkins.
Karena alasan tersebut, Hawkins berpendapat fungsi keagamaan dan astronomi Stonehenge tidak harus dipisahkan. Menurut teorinya, Stonehenge dapat menjadi tempat ritual sekaligus lokasi untuk mengamati fenomena langit.
Jika seseorang mampu memperkirakan datangnya fenomena spektakuler seperti gerhana, kemampuan tersebut juga berpotensi memberikan kedudukan khusus dalam masyarakat.