Internasional . 31/08/2026, 18:24 WIB
Hawkins memasukkan data posisi struktur Stonehenge ke dalam komputer untuk menghitung posisi Matahari dan Bulan ribuan tahun sebelumnya. Pada awal 1960-an, pekerjaan seperti itu akan membutuhkan perhitungan manual yang sangat panjang apabila tidak menggunakan komputer.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh awal bagaimana komputasi dapat membantu penelitian arkeologi dan astronomi.
Kini metode serupa telah berkembang jauh lebih maju.
Peneliti dapat menggunakan pemodelan komputer, pencitraan geofisika, pemindaian tiga dimensi, analisis isotop, penanggalan radiokarbon, hingga rekonstruksi digital untuk mempelajari situs prasejarah tanpa harus bergantung hanya pada penggalian.
Dalam konteks ini, meskipun kesimpulan Hawkins mengenai fungsi Stonehenge banyak dipatahkan, pendekatan ilmiahnya mempunyai nilai historis tersendiri.
Ia mencoba menguji hipotesis mengenai Stonehenge menggunakan data dan teknologi yang tersedia pada masanya.
Stonehenge pernah disebut sebagai komputer prasejarah karena Gerald Hawkins melihat pola astronomi pada susunan batu dan 56 Aubrey Holes yang mengelilingi monumen tersebut. Ia berpendapat struktur itu dapat digunakan untuk mengikuti pergerakan Matahari dan Bulan serta membantu memperkirakan terjadinya gerhana.
Teori tersebut terdengar luar biasa dan sempat sangat berpengaruh setelah penerbitan Stonehenge Decoded pada 1965. Namun, bukti arkeologi modern menunjukkan bahwa Stonehenge dibangun secara bertahap selama lebih dari seribu tahun dan orientasi Bulannya tidak cukup presisi untuk mendukung fungsi sebagai mesin prediksi gerhana.
Meski demikian, terdapat bukti kuat bahwa pembangun Stonehenge memahami pola tertentu dalam pergerakan Matahari. Orientasi monumen terhadap titik balik Matahari menunjukkan bahwa langit mempunyai peran penting dalam kehidupan, ritual, atau pandangan kosmologis masyarakat Neolitikum.
Dengan demikian, menyebut Stonehenge sebagai "komputer prasejarah" secara harfiah tidak lagi sesuai dengan pemahaman ilmiah modern. Akan tetapi, teori tersebut tetap menjadi bagian menarik dalam sejarah penelitian Stonehenge sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi komputer mulai digunakan untuk menguji misteri arkeologi ribuan tahun lalu.
Referensi:
BBC Culture - The Startling 1960s Theory That Stonehenge Was a Prehistoric Computer
Gerald S. Hawkins - Stonehenge Decoded
English Heritage - Stonehenge and the Solstice
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id