Internasional

Mengapa Stonehenge Pernah Disebut sebagai Komputer Prasejarah?

Stonehenge merupakan salah satu monumen prasejarah paling terkenal sekaligus paling misterius di dunia. Susunan batu raksasa yang berdiri di Salisbury Plain

Mengapa Stonehenge Pernah Disebut sebagai Komputer Prasejarah?
Stonehenge, Ilustrasi: DALL·E 3

fin.co.id - Stonehenge merupakan salah satu monumen prasejarah paling terkenal sekaligus paling misterius di dunia. Susunan batu raksasa yang berdiri di Salisbury Plain, Inggris, tersebut telah memunculkan beragam teori mengenai tujuan pembangunannya, mulai dari tempat ritual keagamaan, monumen untuk orang meninggal, hingga lokasi yang berkaitan dengan pengamatan benda langit.

Namun, salah satu teori paling menarik muncul pada dekade 1960-an. Seorang astronom bernama Gerald Hawkins mengusulkan bahwa Stonehenge mungkin pernah berfungsi layaknya "komputer" prasejarah yang membantu masyarakat kuno mengikuti pergerakan Matahari dan Bulan, bahkan memprediksi terjadinya gerhana.

Teori tersebut memperoleh perhatian besar setelah Hawkins menerbitkan buku Stonehenge Decoded pada 1965. Meski gagasannya kini tidak lagi diterima secara luas oleh para arkeolog, penelitian Hawkins mempunyai peran penting dalam sejarah penelitian Stonehenge karena mencoba menggabungkan astronomi, arkeologi, dan teknologi komputer yang ketika itu masih relatif baru.

Gerald Hawkins dan Teori Komputer Stonehenge

Gerald Hawkins merupakan profesor astronomi kelahiran Inggris yang bekerja di Amerika Serikat. Ketertarikannya terhadap Stonehenge berkembang setelah mengunjungi monumen tersebut pada 1961.

Saat berada di antara batu-batu Stonehenge menjelang fajar, Hawkins memperhatikan bahwa susunan batu dan celah di antara struktur tersebut seolah mengarahkan pandangan seseorang menuju titik-titik tertentu di cakrawala.

Pertanyaan kemudian muncul: apakah arah tersebut dibuat secara kebetulan atau sengaja dirancang oleh pembangun Stonehenge?

Untuk menjawabnya, Hawkins mencatat posisi berbagai bagian Stonehenge, termasuk batu, lengkungan, gundukan, dan lubang yang berada di sekitar kompleks tersebut. Data itu kemudian dianalisis dengan bantuan komputer di Harvard-Smithsonian Observatory di Massachusetts.

Penggunaan komputer untuk penelitian arkeoastronomi pada awal 1960-an tergolong pendekatan yang sangat maju.

Komputer digunakan untuk menghitung posisi Matahari dan Bulan sebagaimana kemungkinan terlihat dari Stonehenge pada masa ketika monumen tersebut dibangun ribuan tahun sebelumnya.

Hasil perhitungan menunjukkan adanya sejumlah keselarasan antara struktur Stonehenge dengan posisi terbit dan terbenamnya Matahari serta Bulan.

Hawkins kemudian menyimpulkan bahwa hubungan tersebut bukan kebetulan.

"Stonehenge terkunci pada Matahari dan Bulan seperti eratnya hubungan pasang surut," kata Hawkins sebagaimana dikutip BBC dari wawancaranya pada 1966.

Menurutnya, Stonehenge merupakan observatorium astronomi yang cukup baik pada zamannya.

Misteri 56 Lubang di Stonehenge

Berita Terkait