Internasional . 31/08/2026, 10:06 WIB

Kisah Kepala Sekolah Evakuasi 900 Siswa Sesaat sebelum Banjir Besar Nepal Datang

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

fin.co.id - Keputusan yang diambil hanya dalam hitungan menit berhasil menyelamatkan ratusan nyawa ketika banjir besar menerjang Nepal. Rajendra Dawadi, kepala Tribhuvan Trishuli Secondary School di Distrik Nuwakot, memerintahkan sekitar 900 siswa meninggalkan sekolah setelah menerima sejumlah peringatan bahwa banjir besar sedang menuju kawasan tersebut.

Keputusan itu terbukti sangat menentukan. Sekitar 10 menit setelah proses evakuasi dilakukan, banjir tiba dan menghantam kawasan sekitar sekolah dengan kekuatan besar.

Bangunan sekolah kemudian terkubur lumpur dan material yang dibawa banjir. Asrama yang berada sekitar 100 meter dari sungai juga dilaporkan langsung diterjang ketika air datang.

Peristiwa tersebut menjadi bagian dari bencana banjir besar yang melanda Nepal dan wilayah sekitarnya. Sedikitnya 794 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 2.400 orang masih dinyatakan hilang ketika laporan tersebut diterbitkan.

Empat Peringatan Datang dalam Hitungan Menit

Dawadi mengatakan dirinya menerima empat panggilan sekitar pukul 09.10 waktu setempat. Semua panggilan tersebut memberikan peringatan mengenai ancaman bencana yang sedang mendekati wilayah sekolah.

Salah satu hal yang membuatnya semakin yakin adalah kedatangan seorang orang tua siswa. Orang tua tersebut datang langsung ke sekolah untuk menjemput putrinya karena mendengar banjir besar akan datang.

Bagi Dawadi, tindakan orang tua yang terburu-buru datang ke sekolah menunjukkan bahwa ancaman tersebut tidak boleh dianggap ringan.

"Orang tua tidak akan terburu-buru tanpa alasan yang kuat, jadi saat itu saya yakin tidak boleh membuang waktu sedetik pun untuk mengevakuasi anak-anak," kata Dawadi kepada BBC.

Ia kemudian memutuskan menghentikan kegiatan sekolah dan meminta para siswa segera bergerak menuju tempat yang lebih tinggi.

Bahkan bus yang sedang membawa siswa menuju sekolah diperintahkan berbalik arah agar tidak memasuki kawasan yang terancam banjir.

Dawadi menyadari bahwa peringatan tersebut mungkin saja keliru. Namun, menurutnya, kehilangan satu hari kegiatan belajar jauh lebih kecil risikonya dibanding mempertaruhkan keselamatan ratusan siswa.

Selisih 10 Menit yang Menentukan

Keputusan itu ternyata datang pada waktu yang sangat kritis. Dawadi memperkirakan keterlambatan sekitar 10 menit saja dapat menghasilkan situasi yang sangat berbeda.

"Jika kami tidak mengambil keputusan cepat, jika terlambat 10 menit, kami semua, termasuk para siswa dan saya, mungkin tidak akan bisa berbicara dengan Anda hari ini," ujarnya.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id