Internasional . 30/08/2026, 13:30 WIB
fin.co.id - Korban tewas akibat banjir bandang di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet telah menembus 750 orang. Operasi pencarian kini memasuki hari kelima, tetapi hujan, medan pegunungan yang sulit dijangkau, serta ancaman longsor susulan membuat ribuan orang masih belum ditemukan.
Badan penanggulangan bencana Nepal melaporkan 734 orang meninggal dunia akibat banjir besar yang menerjang wilayah utara negara itu sejak Rabu. Di sisi Tibet, otoritas China melalui media pemerintah melaporkan sedikitnya 16 orang tewas akibat longsor lumpur di wilayah Gyirong, dekat jalur perbatasan Nepal.
Dengan demikian, jumlah korban jiwa di kedua sisi perbatasan mencapai sedikitnya 750 orang. Angka tersebut masih berpotensi bertambah karena pencarian belum menjangkau seluruh lokasi terdampak.
Nepal mencatat 2.498 orang masih hilang. Sementara itu, di Tibet terdapat 546 orang yang belum ditemukan, termasuk 261 warga asing dari 23 negara.
Di antara warga asing yang dilaporkan hilang terdapat warga Nepal, India, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Malaysia, Jerman, Rusia, Prancis, hingga Selandia Baru. Banyak di antaranya diyakini berada di jalur wisata dan ziarah menuju Gunung Kailash, kawasan suci yang menjadi tujuan peziarah dari berbagai negara.
Pihak kepolisian Nepal juga melaporkan sedikitnya 8.186 orang telah berhasil diselamatkan. Hampir 19.895 personel keamanan, polisi, dan militer dikerahkan untuk mencari korban, mengevakuasi warga, serta membuka akses ke wilayah yang tertutup lumpur dan puing.
Namun, jumlah orang hilang yang sangat tinggi membuat banyak keluarga mulai menghadapi kemungkinan terburuk. Sejumlah korban diperkirakan tertimbun material longsor, terseret arus, atau terjebak di area terpencil yang belum dapat dijangkkau tim penyelamat.
Bantuan kemanusiaan telah berdatangan dari berbagai pihak, termasuk India, China, Amerika Serikat, dan Inggris. Namun, proses distribusinya tidak mudah karena jalan rusak, lembah sempit, serta hujan yang terus mengguyur wilayah terdampak.
Koordinator Residen PBB di Nepal, Lila Pieters Yahia, mengatakan bantuan memang sudah tiba, tetapi akses menuju masyarakat yang terdampak sangat sulit.
"Pemerintah mulai mengangkut semua kebutuhan melalui helikopter, dan penggunaan drone untuk menyalurkan bantuan secara lebih efektif juga sedang dibahas," kata Yahia kepada BBC.
Helikopter menjadi salah satu alat utama untuk mengirim makanan, obat-obatan, tenda, dan perlengkapan penyelamatan ke lokasi yang terisolasi. Di beberapa area, lumpur tebal menghambat personel penyelamat yang berusaha memasuki terowongan pembangkit listrik tenaga air. Sejumlah pekerja dilaporkan masih terjebak di dalam terowongan tersebut.
Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal telah mengeluarkan peringatan hujan tingkat kuning hingga setidaknya Senin. Walau merupakan tingkat peringatan terendah dalam sistem yang digunakan Nepal, hujan tetap dapat memperburuk kondisi tanah yang sudah labil dan menghambat proses pencarian.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id