Catatan Dahlan Iskan

La Hua

Ada semacam ayat baru menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dibuka Presiden Prabowo kemarin. Bunyi ''ayat'' itu: "la miftaha wa la yahya".

La Hua
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan saat pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, Kamis, 27 Agustus 2026--YouTube Sekretariat Presiden

Oleh: Dahlan Iskan

Ada semacam ayat baru menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dibuka Presiden Prabowo kemarin.

Bunyi ''ayat'' itu: "la miftaha wa la yahya".

Bagi orang NU maknanya jelas: ada pihak yang tidak ingin Miftah dan Yahya terpilih lagi. "La" dalam bahasa Arab berarti ''tidak''. "Wa" artinya "dan". Tidak Kiai Miftah (Akhyar) dan tidak Kiai Yahya (Staquf).

Dua tokoh itu memang berkonflik sangat tajam dua tahun terakhir. Sampai ada ketua umum tandingan.

Semua konflik itu ingin diselesaikan lewat Muktamar di Pondok Pesantren "Bintang Sembilan" Tambak Beras, Jombang. Tapi Gus Yahya masih ingin jadi ketua umum lagi. Pendukungnya masih kuat.

Kiai Miftah juga masih dijagokan untuk kembali menjadi rais am, pemimpin tertinggi dalam struktur NU. Tokoh seperti Gus Ipul –Saifullah Yusuf, sekjen PBNU yang juga menteri sosial kabinet Prabowo– terlihat ingin memasangkan Kiai Miftah dengan Gus Kikin: sebagai Rais Am dan Ketua Umum.

Gus Ipul harus berjuang keras agar Gus Kikin, pengusaha migas yang kemudian jadi kiai Pondok Tebuireng, bisa terpilih.

Gus Ipul punya cara yang sangat pragmatis. Mantan ketua umum Gerakan Pemuda Ansor –underbow militan NU– itu sudah sangat berpengalaman "bertempur" di pemilihan apa pun. Termasuk tiga kali di Pilgub Jatim –dua kali menang, sekali kalah.

Ia banyak belajar dari kekalahannya lawan Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim. Ia tidak ingin kalah lagi di pemilihan rais am dan ketua umum PBNU. Ia jadi lokomotif tim sukses pasangan Kiai Miftah dan Gus Kikin.

Tapi ada tim lain yang juga punya lokomotif yang menderu keras: tim Nusron Wahid, juga mantan ketua umum GP Ansor yang kini menteri Agraria di kabinet Presiden Prabowo. Nusron menginginkan Kiai Zulfa dari Banten sebagai ketua umum.

Masih ada satu lokomotif besar lainnya: Muhaimin Iskandar. Ia ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa. Ia mantan ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia-nya NU yang kini menjabat menteri koordinator dalam kabinet Presiden Prabowo. Ia menginginkan KH Yusuf Chudlori sebagai ketua umum NU.

Rasanya Prabowo bisa tepuk jidad kalau tiga-tiganya minta restunya.

Tiga jagoan itulah yang sebenarnya sedang bertempur di dalam selimut. Tiga-tiganya jagoan dalam memenangkan persaingan dalam berbagai muktamar. Cara-cara apa pun bisa di-copy untuk diterapkan di Muktamar ke-35 sekarang ini. Termasuk cara karantina.

Tiga tim dari tiga lokomotif itu sampai punya gerakan "jemput bola". Mereka saling menjemput peserta muktamar di bandara. Mereka saling menyediakan angkutan gratis. Bukan dibawa ke Jombang tapi ke tempat persinggahan misterius di suatu tempat. Ada yang menyebut mereka itu disekap. Setidaknya dikarantina.

Berita Terkait

La Hua
Catatan Dahlan Iskan

La Hua

2 jam lalu