Tekno

Google, Microsoft dan OpenAI Serukan Pertahanan Siber Lebih Kuat untuk Hadapi Ancaman AI

Google, Microsoft, OpenAI, dan hampir 100 perusahaan serta organisasi teknologi menyerukan peningkatan pertahanan siber di tengah perkembangan kecerdasan

Google, Microsoft dan OpenAI Serukan Pertahanan Siber Lebih Kuat untuk Hadapi Ancaman AI
AI Tertawa Jahat, Ilustrasi: DALL·E 3

fin.co.id - Google, Microsoft, OpenAI, dan hampir 100 perusahaan serta organisasi teknologi menyerukan peningkatan pertahanan siber di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat. Seruan tersebut menyoroti kekhawatiran bahwa kemampuan AI canggih dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menyerang sistem penting, mulai dari jaringan energi, layanan kesehatan, transportasi, hingga institusi pemerintah.

Melalui sebuah surat bersama, para penandatangan meminta pemerintah, organisasi, tenaga ahli keamanan siber, serta perusahaan AI untuk bekerja sama memperkuat perlindungan digital. Mereka menilai langkah pencegahan harus diprioritaskan sebelum kemampuan model AI paling kuat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

AI Membuka Peluang Sekaligus Risiko Baru

AI telah membantu banyak organisasi dalam mengotomatisasi pekerjaan, menganalisis data dalam jumlah besar, dan mempercepat deteksi ancaman digital. Dalam keamanan siber, AI dapat digunakan untuk mengenali pola mencurigakan, menyaring pesan phishing, menemukan celah perangkat lunak, serta membantu tim keamanan merespons insiden dengan lebih cepat.

Namun, teknologi yang sama juga berpotensi digunakan oleh penjahat siber. AI dapat mempercepat pembuatan pesan penipuan yang tampak meyakinkan, membantu menyusun kode berbahaya, atau mengolah informasi publik untuk membuat serangan rekayasa sosial yang lebih terarah. Rekayasa sosial adalah metode manipulasi yang menipu korban agar memberikan kata sandi, data pribadi, kode verifikasi, atau akses ke sistem tertentu.

Surat tersebut secara khusus meminta perusahaan pembuat model AI tingkat lanjut menyediakan akses model yang bertanggung jawab, pendanaan berarti, pelatihan, dan dukungan langsung bagi pihak yang melindungi infrastruktur kritis tetapi memiliki sumber daya terbatas. Infrastruktur kritis mencakup layanan yang menjadi tulang punggung kehidupan sehari-hari, seperti listrik, air bersih, jaringan komunikasi, rumah sakit, perbankan, dan distribusi pangan.

Perlindungan Infrastruktur Kritis Jadi Sorotan

Serangan terhadap infrastruktur kritis dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar dibanding gangguan pada satu perusahaan biasa. Ketika sistem rumah sakit terkena serangan ransomware, misalnya, layanan pasien dapat terganggu. Ketika jaringan energi atau transportasi menjadi sasaran, dampaknya dapat dirasakan masyarakat dalam skala luas.

Karena itu, perlindungan tidak cukup dilakukan setelah serangan terjadi. Organisasi perlu secara rutin menguji sistemnya, memperbarui perangkat lunak, membatasi akses penting, menyiapkan cadangan data, serta melatih pegawai agar dapat mengenali upaya penipuan.

Pemerintah dan organisasi juga diminta untuk menguji ketahanan sistem mereka terhadap kemampuan yang mungkin dimiliki oleh model AI paling maju. Pendekatan ini penting karena ancaman digital berubah cepat. Sistem yang aman hari ini belum tentu mampu menghadapi teknik serangan baru dalam beberapa bulan berikutnya.

Akses AI Harus Tetap Bertanggung Jawab

Di sisi lain, seruan untuk memperluas dukungan AI bagi pembela keamanan siber juga menghadirkan tantangan. Model yang sangat kuat dapat membantu analis keamanan, tetapi akses yang terlalu longgar berisiko dimanfaatkan untuk tujuan jahat.

Anthropic disebut telah membatasi akses ke model bernama Mythos karena dinilai terlalu kuat jika sampai jatuh ke tangan yang salah. Keputusan ini menggambarkan dilema yang kini dihadapi banyak perusahaan AI: bagaimana membantu pihak yang bertugas melindungi sistem tanpa membuka peluang penyalahgunaan teknologi oleh pelaku serangan.

Pakar dari CivAI, Andrew Yoon, memperingatkan adanya potensi gelombang aktivitas peretasan berbasis AI yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menilai perusahaan-perusahaan yang menandatangani surat tersebut memang perlu menyediakan pendanaan besar untuk langkah pertahanan. Namun, ia juga menyoroti bahwa seruan itu belum mendorong tindakan untuk memperlambat perkembangan kemampuan AI yang dapat dipakai untuk melakukan peretasan.

Peringatan ini menunjukkan bahwa perlindungan siber tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Tata kelola, batasan akses, pengujian keamanan, transparansi insiden, dan pengawasan manusia tetap memegang peranan penting.

Berita Terkait