Bisnis AI Meledak, Pendapatan Nvidia Tembus Rp1.700 Triliun
Nvidia mencatat lonjakan pendapatan seiring perlombaan global dalam membangun pusat data untuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pada kuartal
fin.co.id - Nvidia mencatat lonjakan pendapatan seiring perlombaan global dalam membangun pusat data untuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pada kuartal kedua tahun fiskal 2027, perusahaan chip asal Amerika Serikat itu membukukan pendapatan 96,2 miliar dolar AS, naik 106 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan mengacu pada kurs JISDOR Bank Indonesia sebesar Rp17.717 per dolar AS pada 26 Agustus 2026, nilai tersebut setara sekitar Rp1.704 triliun. Angka ini memperlihatkan betapa besar arus investasi yang kini mengalir ke infrastruktur AI, mulai dari pembelian chip, pembangunan pusat data, jaringan berkecepatan tinggi, hingga kebutuhan listrik berskala besar.
Pusat Data Menjadi Mesin Utama Pertumbuhan Nvidia
Pendorong terbesar pendapatan Nvidia berasal dari segmen pusat data. Divisi ini menghasilkan pendapatan 89 miliar dolar AS, tumbuh 117 persen secara tahunan. Jika dikonversikan dengan kurs yang sama, nilainya mencapai sekitar Rp1.576 triliun.
Pusat data merupakan fasilitas yang menampung ribuan hingga jutaan perangkat komputasi untuk menyimpan, memproses, dan mengirimkan data. Dalam era AI generatif, pusat data tidak lagi hanya digunakan untuk layanan penyimpanan daring atau situs web, tetapi juga untuk melatih model bahasa besar, membuat gambar dan video berbasis AI, menjalankan chatbot, serta mengoperasikan sistem analisis data.
Kebutuhan komputasi AI jauh lebih tinggi dibandingkan aplikasi digital biasa. Model AI harus mengolah data dalam jumlah sangat besar melalui proses perhitungan paralel yang kompleks. Karena itu, perusahaan teknologi membutuhkan graphics processing unit atau GPU berperforma tinggi, yakni produk yang selama ini menjadi kekuatan utama Nvidia.
Amazon, Meta, Google, Microsoft, Oracle, hingga sejumlah perusahaan AI disebut terus memperluas kapasitas komputasi mereka. Bagi Nvidia, gelombang pembangunan pusat data tersebut menciptakan permintaan besar terhadap chip, perangkat jaringan, perangkat lunak, dan sistem komputasi lengkap yang mereka tawarkan.
Pendapatan Naik di Tengah Kekhawatiran Gelembung AI
Pendapatan Nvidia tidak hanya meningkat dibandingkan tahun lalu, tetapi juga tumbuh 18 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Kinerja itu melampaui proyeksi banyak analis di Wall Street, yang sebelumnya memperkirakan pendapatan perusahaan berada di kisaran 92 miliar dolar AS.
Nvidia juga memperkirakan pendapatan pada kuartal berikutnya dapat mencapai 108 miliar dolar AS, dengan toleransi perubahan sekitar 2 persen. Bila angka tersebut tercapai dan dikonversikan memakai kurs yang sama, nilainya mendekati Rp1.913 triliun dalam satu kuartal.
Meski demikian, lonjakan investasi AI ikut memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan terbentuknya gelembung industri. Banyak perusahaan teknologi mengeluarkan dana sangat besar untuk membeli chip dan membangun pusat data, sementara manfaat bisnis jangka panjang dari investasi tersebut masih terus diuji.
Baca Juga
Kekhawatiran lain berkaitan dengan kebutuhan energi. Pusat data AI memerlukan listrik yang sangat besar untuk menjalankan server dan sistem pendingin. Di sejumlah negara, ekspansi pusat data bahkan mulai memicu diskusi soal pasokan listrik, pembangunan pembangkit, penggunaan air, dan dampak lingkungan.
Namun, laporan terbaru Nvidia menunjukkan bahwa permintaan terhadap infrastruktur AI masih sangat kuat. Perusahaan-perusahaan besar tampaknya belum mengendurkan belanja modal mereka karena AI dipandang sebagai teknologi penting untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan layanan baru, dan menjaga daya saing.