Bukan Gempa, Ilmuwan Ungkap Dugaan Penyebab Banjir Mematikan Nepal-Tibet
Banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026, awalnya dikaitkan dengan gempa bumi. Namun
Profesor ilmu bumi dari University of Oxford, Mike Searle, menjelaskan bahwa rangkaian peristiwa dapat melibatkan longsoran terlebih dahulu, kemudian terbentuk bendungan sementara di sungai sebelum akhirnya jebol.
Menurutnya, skenario semacam itu dapat menghasilkan pelepasan air dan material secara mendadak dalam jumlah sangat besar.
Mengapa Keruntuhan Gletser Bisa Terdeteksi seperti Gempa?
Keruntuhan gletser dalam skala sangat besar dapat menghasilkan getaran tanah yang ditangkap alat pencatat gempa atau seismometer.
Ketika jutaan ton es, batu, dan material lainnya jatuh dari ketinggian dan menghantam dasar lembah, energi tumbukannya merambat melalui kerak bumi sebagai gelombang seismik.
Inilah yang dapat menyebabkan peristiwa tersebut pada awalnya terlihat menyerupai gempa.
USGS menyebut kejadian di perbatasan Nepal dan China tersebut semula dilaporkan sebagai gempa magnitudo 4,4. Setelah data dari stasiun seismik terdekat, gelombang seismik periode panjang, dan citra satelit dianalisis lebih lanjut, USGS menyimpulkan bahwa sinyal tersebut berasal dari keruntuhan gletser dan aliran material.
Peristiwa itu kemudian tercatat sebagai aktivitas seismik setara magnitudo 5,2.
Dengan demikian, bukan gempa yang menyebabkan gletser runtuh berdasarkan kesimpulan sementara tersebut. Sebaliknya, keruntuhan material dalam skala sangat besar itulah yang menghasilkan getaran menyerupai gempa.
Penyebab Gletser Runtuh Masih Diselidiki
Meski mekanisme awal banjir mulai dapat dipetakan, ilmuwan belum dapat memastikan apa yang membuat bagian gletser tersebut runtuh secara tiba-tiba.
Himalaya merupakan kawasan geologi yang sangat aktif. Pegunungan ini terus mengalami pengangkatan akibat pergerakan lempeng tektonik dalam jangka panjang.
Baca Juga
Searle menggambarkan proses tersebut seperti mendongkrak sebuah mobil dari bawah. Ketika pegunungan terus terangkat, lereng dan gletser yang berada di atasnya dapat menjadi semakin curam dan tidak stabil.
Keruntuhan bagian kecil gletser sebenarnya bukan fenomena yang sama sekali asing di kawasan pegunungan tinggi. Namun, keruntuhan dalam skala sangat besar sekaligus merupakan kejadian yang jauh lebih tidak biasa.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah peningkatan temperatur di kawasan Himalaya.