Internasional

Kebakaran Hutan Mengganas di Aljazair, Menewaskan Sedikitnya 12 Orang

Kebakaran hutan yang melanda kawasan utara Aljazair telah menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai puluhan lainnya. Api dilaporkan muncul di berbagai provinsi

Kebakaran Hutan Mengganas di Aljazair, Menewaskan Sedikitnya 12 Orang
Ilustrasi Kebakaran Hutan, Ilustrasi: DALL·E 3

fin.co.id - Kebakaran hutan yang melanda kawasan utara Aljazair telah menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai puluhan lainnya. Api dilaporkan muncul di berbagai provinsi di sepanjang pesisir utara negara tersebut ketika Afrika Utara sedang menghadapi gelombang panas yang berat.

Otoritas perlindungan sipil Aljazair menyatakan petugas pemadam kebakaran harus menghadapi puluhan titik api yang menyebar di sejumlah wilayah. Pada Rabu malam waktu setempat, sedikitnya 69 kebakaran dilaporkan masih ditangani di berbagai daerah.

Menteri Dalam Negeri Aljazair, Said Sayoud, mengatakan sedikitnya 54 orang mengalami luka bakar. Enam di antaranya menjalani perawatan intensif karena kondisi luka yang serius. Korban meninggal tercatat berada di beberapa provinsi, yakni lima orang di Jijel, empat orang di Bejaia, dan tiga orang di Tizi Ouzou.

Kawasan Bejaia dan Jijel menjadi dua wilayah yang paling terdampak. Sejumlah rumah dievakuasi untuk menjauhkan warga dari jalur api dan asap pekat. Rekaman yang beredar dari media lokal memperlihatkan warga berlindung di sebuah kantor pos ketika asap tebal menyelimuti lingkungan sekitar.

Evakuasi Dilakukan saat Asap Menyelimuti Permukiman

Kebakaran hutan tidak hanya mengancam kawasan pepohonan dan lahan pertanian, tetapi juga permukiman yang berada di dekat perbukitan serta hutan. Ketika api bergerak cepat akibat angin dan vegetasi yang kering, waktu evakuasi menjadi sangat terbatas.

Pemerintah setempat mengerahkan petugas pemadam kebakaran serta personel perlindungan sipil untuk menahan perluasan api. Menteri Dalam Negeri bersama Menteri Kesehatan Aljazair, Mohamed Seddik Ait Messaoudene, mendatangi Bejaia untuk meninjau penanganan kebakaran dan proses evakuasi warga.

Risiko kebakaran juga meningkat akibat asap. Partikel halus dari kebakaran dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak, penderita asma, serta warga dengan gangguan jantung atau paru-paru. Karena itu, evakuasi tidak hanya dilakukan ketika rumah telah terancam api, melainkan juga saat kualitas udara di sekitar permukiman memburuk.

Aljazair sebenarnya kerap mengalami kebakaran hutan pada musim panas. Namun, peristiwa kali ini kembali mengingatkan besarnya dampak bencana tersebut bagi masyarakat. Bejaia pernah mengalami kebakaran besar tiga tahun lalu yang menewaskan sekitar 30 orang dan menghancurkan kawasan hutan serta lahan pertanian.

Pada Juli lalu, otoritas setempat juga mencatat sedikitnya enam kematian akibat kebakaran. Dalam bulan yang sama, lebih dari 2.000 kebakaran dilaporkan terjadi di seluruh Aljazair.

Gelombang Panas Memperbesar Risiko Kebakaran

Cuaca panas tidak selalu menjadi penyebab tunggal kebakaran hutan. Api dapat dipicu oleh aktivitas manusia, gangguan pada jaringan listrik, pembakaran terbuka, atau faktor lainnya. Namun, suhu tinggi, kelembapan rendah, kekeringan, dan hembusan angin dapat membuat api lebih mudah muncul serta jauh lebih sulit dikendalikan.

Ketika vegetasi kehilangan banyak kandungan air, rumput, semak, dan ranting kering berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Api kemudian dapat menjalar dengan cepat, terutama di area berbukit yang memiliki akses terbatas bagi kendaraan pemadam kebakaran.

Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO mencatat Afrika mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Laporan State of the Climate in Africa 2025 juga menyebut anomali suhu tertinggi di benua itu tercatat di Afrika Utara, khususnya di sepanjang pesisir Mediterania Aljazair dan Tunisia.

Laporan WMO sebelumnya turut menunjukkan bahwa Afrika Utara merupakan subwilayah Afrika yang mengalami pemanasan paling cepat. Suhu yang makin tinggi dan kekeringan yang berlangsung lebih lama dapat memperbesar risiko kebakaran hutan, sekaligus menambah tekanan terhadap pasokan air, pertanian, kesehatan masyarakat, dan sistem tanggap bencana.

Berita Terkait