Catatan Dahlan Iskan . 25/08/2026, 05:52 WIB

Networking Rebahan

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir pakai bantal kapuk randu. Kenangan saya pada bantal kapuk adalah kenangan buruk: banyak kutunya. Kutu busuk pula. Maka pekerjaan tambahan sebagai anak-anak adalah mencari kutu yang bersarang di pojok-pojok bantal: di jahitannya. Di situ pula kutu busuk bertelur dan beranak sehingga sangat sulit memberantasnya. Saya lupa kenapa belakangan kutu busuk seperti tiba-tiba lenyap di jagat bantal nusantara.

Tanpa muktamar ini saya tetap akan mengira sudah tidak ada lagi orang yang cari penghidupan dari kapuk randu. Ternyata masih jadi bisnis yang mengasilkan dolar.

Sumhaji pun saya ajak podcast bersama Sasa di Dismorning Minggu pagi lalu. Di situ Sumhaji berani menyebut diri sebagai ”profesor kapuk”. Ia memang ahli di bidang kapuk randu. "Di musim panas kapuk randu terasa lebih dingin. Di musim dingin terasa lebih hangat", katanya.

Di masa kecil tidak ada istilah beli bantal. Bantal bisa dibuat sendiri: pakai kain sarung yang sudah diafkir. Sudah sobek sana-sini. Lalu diisi kapuk yang diambil dari pohon. Setiap mencari kapuk randu selalu dapat bonus: biji randu. Warnanya hitam. Sekecil butiran kedelai. Digoreng tanpa minyak. Saya masih ingat rasanya tapi sudah agak-agak lupa namanya. Klentheng?

Selain Sumhaji ada lagi perusuh yang saya ajak ngobrol panjang: Ahmad Reza Ropi. Nama tambahan Ropi itu dari saya: agar saya ingat Reza yang perusuh ini adalah Reza yang menemukan bisnis berkat bertemu direktur rumah sakit.

Sang direktur lagi berpikir bagaimana agar rumah sakit yang ia pimpin tidak didominasi aroma obat. Agar pasien tidak jenuh dengan aroma itu. Sang direktur terkesan setiap lewat dekat toko Roti O hidungnya terasa nyaman: menghirup aroma roti yang harum enak.

Reza langsung seperti dapat ilham: ”Bisa, Pak," jawabnya.

Dari situlah Reza menciptakan roti aroma kopi. Roti Kopi –Ropi. Jadilah Ropi merk roti buatannya. Kebetulan sang istri adalah cucu pembuat roti di zaman Belanda. Dia masih menyimpan resepnya.

Kini Reza sudah mempunyai 130 outlet Ropi di 130 rumah sakit tipe C. Ia tidak masuk RS kelas atas karena mereka punya cara sendiri menghilangkan aroma obat di rumah sakitnya.

Ke muktamar Reza membawa beberapa contoh Ropi. Ditaruh di depan saya. Dalam sekejap saya sudah tidak sempat merasakan enak-tidaknya. Reza tidak membawa banyak Ropi karena roti resmi muktamar ini adalah Dea (Disway 26 Oktober 2025: Garis Kemampuan).

Begitulah serunya. Di muktamar ini saya pun melihat: waktu kosong lebih penting dari waktu ada acara. Karena itu acara-acara dibuat singkat-singkat: agar waktu kosong lebih banyak. Saya lihat mereka aktif saling networking di waktu kosong. Tidak ada yang hanya rebahan. (Dahlan Iskan)

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id