Catatan Dahlan Iskan . 24/08/2026, 05:18 WIB

Bintang Perusuh

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana
Editor : Esnoe Faqih Wardhana

Anak sulung Mardiko ikut menemani ke Bali. Ikut hidup tanpa HP. Tanpa bicara. Tanpa rokok. Setiap pulang dari semedi ia kehilangan orientasi. Terutama ketika dari tempat semedi tiba di bandara.

"Rasanya kehidupan di bandara terlalu bising," katanya.

Ia perlu waktu untuk menyesuaikan ''hidup normal'' setelah semedi. Termasuk perlu waktu tiga hari untuk bisa kembali menikmati rokoknya.

Perusuh terjauh kali ini datang dari Batam: Fransiska Jappy. Dia berjuang ke suami untuk bisa dapat izin ke muktamar ini. Ternyata dia asli Ketapang, Kalbar. Lalu sekolah di Singapura dan dapat suami dari Batam. Fransiska dan suami punya bisnis besar karena dipercaya perusahaan-perusahaan asing di Batam untuk menangani tenaga kerja mereka.

Separo peserta muktamar memang wajah baru. Selebihnya ''raja-raja'' perusuh lama: Udin Salemo, Cak Mul, dr Sandra, Datuk Dimyani, Handoko.....

Rifda Ammarina tuan rumah pertama muktamar di perkebunan miliknyi di Cikeusik, Pandeglang juga hadir. Dia tidak ikut jatah makan serupa MBG seperti lainnya. Dia masak sendiri di dapur: ''saya alergi gluten''. Kebetulan dapurnya kosong: Galuh Banjar tidak ikut ke Gondang. Menantu Pak Iskan itu lagi flu berat.

Sedang mengenai dua bintang muda yang namanya sudah telanjur disebut di awal tulisan ini ternyata tidak cukup waktu lagi untuk menuliskan kisah mereka. (Dahlan Iskan)

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id