Dear Cinta
Saya lebih suka judul film laris itu dibuat agak mirip dengan judul aslinya: Dear Ah Ma. Bukan Dear You. Terlalu jauh dengan judul asli: Gei Ah Ma de Qing Shu (Surat Cinta untuk Nenek).
Di rantau Musheng kos satu kamar berdesakan empat orang. Juragan kos-kosan yang selalu mabuk itu punya anak gadis nan jelita. Namanyi: Xie Nanzhi. Gadis anak juragan itu juga buta huruf. Si gadis sangat terkesan dengan Musheng yang baik hati dan pekerja keras. Apalagi ketika rumah kos-kosan itu terbakar. Sang juragan sedang mabuk. Tidak sadar kalau rumahnya sedang dilalap api. Anak gadisnya, Nanzhi, sampai harus menggendong sang ayah, tapi selalu jatuh tersungkur di tengah nyala api yang berkobar.
Musheng masuk rumah menerobos api. Maunya menyelamatkan uang simpanan yang akan dikirim ke istri di kampung halaman. Tapi ia melihat si gadis kesulitan menyelamatkan ayahnyi. Ia gendong juragannya menerobos api. Selamat. Lalu ia bergegas balik menembus api: ingin selamatkan uangnya. Terlambat. Uang sudah terbakar.
Musheng pun mencari siapa yang membakar rumah itu: ketemu! Yakni investor yang pernah datang untuk membeli rumah kos-kosan itu. Harga tidak cocok. Ia akan menjadikannya real estate. Musheng pun menghajar investor itu. Babak belur. Musheng ditangkap polisi. Dimasukkan penjara.
Saat Musheng di penjara si gadis sudah mulai bisa membaca. Nanzhi diam-diam mengintip pelajaran membaca untuk anak-anak perantau di salah satu kamar kamar kos.
Setiap kali ada surat dari istri Musheng dia antarkan surat itu ke penjara. Sambil bawa makanan untuk Musheng yang telah berjasa menyelamatkan ayahnyi. Musheng minta si gadis membacakan isi surat istrinya. Dari surat menyurat itu si gadis pun tahu betapa murni cinta mereka.
Selama Musheng di penjara tentu tidak punya penghasilan. Musheng juga tidak mau istrinya tahu kalau suaminyi sedang kena musibah. Sang istri sendiri yakin suaminyi baik-baik saja di rantau. Buktinya tiap bulan masih kirim surat dan masih kirim uang dengan jumlah yang sama.
Sang istri tidak tahu kalau yang selalu kirim surat dan uang itu sebenarnya si gadis Nanzhi.
Sekeluar dari penjara Musheng dapat pekerjaan sebagai penarik becak. Becak gaya Thailand. Lama-lama hasilnya bisa untuk menyewa kapal kayu. Musheng pun punya kapal kecil. Ia mulai jadi pengusaha angkutan sungai.
Si gadis tahu Musheng sudah punya penghasilan. Sudah bisa kirim uang sendiri. Dia tidak perlu lagi menulis 'surat palsu' ke istri Musheng.
Musibah lagi. Di dermaga kapal itu ada perampokan. Di kegelapan malam Musheng membantu menangkap orang yang merampok perahu di sebelah perahunya. Musheng kalah. Tewas. Dibuang ke laut.
Baca Juga
Si gadis anak juragan amat sedih kehilangan orang yang amat dia sayangi. Dia sampai bikin papan arwah (神主牌) Musheng. Papan arwah itu ditaruh di kelenteng. Si gadis sembahyangi terus papan arwah itu secara rutin.
Bertahun-tahun pula gadis Nanzhi selalu kirim surat ke istri Musheng seolah sang suami baik-baik saja. Nanzhi juga terus kirim uang seakan-akan dari suami.
Ketika usia gadis Nanzhi kian tua dia berada di satu dilema besar: apakah akan tetap terus menulis surat ke istri Musheng –seolah Musheng masih hidup. Atau mulai berterus terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia.
Dia putuskan: tidak. Dia tidak sampai hati membayangkan betapa sedih istri Musheng. Maka, si gadis tiap bulan tetap kirim uang ke istri Musheng. Disertai surat cinta seperti biasanya. Sang istri juga selalu membalas surat itu.
Pernah uang kiriman itu dipakai sang istri ke kota: untuk berfoto keluarga. Sang istri ingin suaminyi tahu bahwa dia masih tetap cantik dan anak-anak mereka sudah mulai sekolah.