Catatan Dahlan Iskan

Dear Cinta

Saya lebih suka judul film laris itu dibuat agak mirip dengan judul aslinya: Dear Ah Ma. Bukan Dear You. Terlalu jauh dengan judul asli: Gei Ah Ma de Qing Shu (Surat Cinta untuk Nenek).

Dear Cinta

Maka dialog di film Dear You sendiri pakai bahasa Zhaozhou. Bukan Mandarin. Penonton terbantu oleh teks bahasa Inggris dan Indonesia.

Selesai menonton saya hampiri seorang wanita kaya asal Singkawang. Dia bersuku Zhaozhou: separo Tionghoa Singkawang memang suku Zhaozhou. Separonya lagi suku Hakka.

Wanita itu istri seorang pengusaha terkaya Surabaya meski sang pengusaha selalu tampil seperti orang kebanyakan. Perusahaan kopinya terbesar di Indonesia. Punya pabrik kopi di beberapa negara.

"Apakah Anda mengerti sepenuhnya dialog di film tadi?" tanya saya.

"Mengerti separo," katanyi.

"Kan Anda orang Zhaozhou....".

"Iya, tapi itu bahasa asli di sana," jawabnyi.

Lalu saya menoleh ke suaminyi. Ia suku Fujian dari nenek moyang di Quangzhou.

"Anda mengerti berapa persen?"

"Hanya mengerti satu dua kata," jawabnya.

"Anda tadi menangis?" tanya saya lagi.

"Tidak," jawabnyi.

"Saya menangis...." kata saya.

Memang, dua kali saya berlinang air mata.

Cinta Musheng ke Ye Shurao sangat murni. Biar pun di rantau masih tetap miskin ia tetap kirim surat sebulan sekali. Di surat itu disertakan uang 20 dolar Hongkong. Sang istri juga selalu kirim surat balasan ke suami: mengabarkan keadaan dan perkembangan tiga anak mereka.

Berita Terkait