Internasional

Bos-bos Teknologi Ramai Bikin Manifesto soal AI, Ada Apa?

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya melahirkan produk dan perusahaan bernilai besar. Dalam beberapa tahun terakhir

Bos-bos Teknologi Ramai Bikin Manifesto soal AI, Ada Apa?
Manifesto AI, Image: DALL·E 3

Dengan kata lain, manifesto dapat menjadi pernyataan mengenai masa depan yang ingin mereka bangun.

Seorang CEO tidak hanya mengatakan bahwa perusahaannya memiliki teknologi AI yang lebih baik. Ia juga menjelaskan seperti apa dunia yang menurutnya akan muncul ketika teknologi tersebut berkembang semakin jauh.

Optimisme di Tengah Kekhawatiran AI

Ada alasan lain mengapa manifesto tersebut semakin sering muncul.

AI saat ini juga menghadapi kekhawatiran yang semakin besar. Masyarakat mempertanyakan kemungkinan hilangnya pekerjaan, meningkatnya ketimpangan, konsumsi energi, keamanan, privasi, hingga potensi penyalahgunaan teknologi.

Di tengah kekhawatiran tersebut, para pemimpin perusahaan AI cenderung menekankan sisi optimistis.

Zuckerberg, misalnya, menolak anggapan bahwa perkembangan AI secara otomatis akan membuat sebagian besar manusia kehilangan pekerjaan. Dalam "The Future is for Everyone", ia justru berpendapat bahwa akan ada banyak pekerjaan pada masa depan dan AI dapat membantu manusia menciptakan berbagai hal baru. Meta juga menekankan bahwa penggunaan superintelligence sebagai alat untuk menciptakan dan menemukan hal baru dapat memperbesar kemampuan individu.

Pandangan tersebut tentu menjadi bagian dari perdebatan besar mengenai dampak AI terhadap dunia kerja.

Karena itu, manifesto para CEO juga dapat dibaca sebagai usaha untuk menjawab kekhawatiran publik dengan menawarkan gambaran masa depan yang lebih optimistis.

Manifesto Juga Menjadi Strategi Bisnis

Di balik pembahasan filosofis tersebut terdapat kepentingan bisnis yang tidak bisa dipisahkan.

Para perusahaan AI saat ini bersaing bukan hanya untuk mendapatkan pengguna, tetapi juga untuk menentukan standar teknologi yang akan digunakan pada masa depan.

Meta, misalnya, menempatkan gagasan mengenai keterbukaan dan distribusi kemampuan AI sebagai bagian penting dari visinya. Dalam tulisannya, Zuckerberg mempertanyakan apakah superintelligence akan dikendalikan oleh segelintir perusahaan dan institusi atau tersedia secara lebih luas bagi individu.

OpenAI juga membangun narasi yang berbeda melalui gagasan "The Intelligence Age", dengan menekankan potensi AI untuk meningkatkan kemampuan manusia dan membuka peluang baru.

Sementara Anthropic lebih banyak menekankan kemungkinan transformasi besar sekaligus pentingnya memahami risiko AI yang semakin kuat. Gagasan tersebut terlihat dalam berbagai pembahasan perusahaan yang kembali merujuk esai "Machines of Loving Grace" milik Amodei.

Berita Terkait