Catatan Dahlan Iskan . 14/08/2026, 05:34 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Hanya sekali saya bertemu Zhu Rongji. Di Nanjing, Jiangshu. Sudah lama sekali. Itu pun bukan pertemuan khusus. Tepatnya: saya hanya melihat beliau. Menghadiri pidatonya. Tidak lebih dari itu.
Setelah tidak menjabat perdana menteri Zhu Rongji seperti hilang dari bumi. Dari orang yang amat populer menjadi tidak sekali pun muncul di media.
Selama 23 tahun orang tidak tahu lagi di mana Zhu Rongji. Orang juga tidak tahu apa saja yang dilakukannya setelah tidak jadi perdana menteri.
Itulah budaya politik di Tiongkok: yang sudah pensiun tidak pernah mau tampil di publik. Mereka konsisten menjadi pertapa. Pun orang yang menjadi presiden di saat Zhu Rongji jadi perdana menteri: Jiang Zemin.
Presiden Jiang tidak pernah muncul di permukaan. Padahal kurang hebat apa Presiden Jiang. Ia adalah presiden yang mengubah Partai Komunis Tiongkok dari partai berkaki dua --buruh dan tani-- menjadi partai berkaki tiga: buruh, tani, pengusaha.
Pasti Jiang adalah orang yang sangat kuat: bagaimana bisa membuat pengusaha menjadi soko guru partai komunis. Bukankah komunis lahir sebagai alat perjuangan kelas melawan kapitalisme? Bagaimana bisa kapitalis (pengusaha) justru jadi soko guru komunis di Tiongkok?
Orang sekelas Presiden Jiang Zemin pun tidak diketahui di mana keberadaannya dan melakukan apa. Setelah tidak jadi presiden namanya hilang sehilang-hilangnya. Begitu juga Zhu Rongji. Tiba-tiba saja ada berita di media, kemarin, Zhu Rongji meninggal dunia: 12 Agustus 2026. Di usia 97 tahun.
Kalau pun nama Zhu Rongji sering muncul di media, itu media di luar negeri. Seperti media di Indonesia. Nama Zhu Rongji sering disebut sebagai contoh ketegasan dalam pemberantasan korupsi. Anda sudah hafal kata-kata Zhu Rongji ini: "sediakan 100 peti mati. Yang 99 untuk koruptor. Yang satu untuk saya".
Artinya: ia sudah siap mati dibunuh oleh orang-orangnya koruptor sebagai bentuk balas dendam mereka atas ketegasan Zhu dalam memberantas korupsi di Tiongkok.
Kata-kata Zhu Rongji itu sudah seperti mantera di mana-mana. Rasanya kata-kata itu hanya kalah populer dengan apa yang dipidatokan Presiden Prabowo: "Akan saya kejar koruptor sampai ke Antartika".
Tentu meninggalnya Zhu Rongji tidak membuat istilah '100 peti mati' ikut terkubur. Kata-kata itu akan terus hidup dan diucapkan oleh orang yang ingin korupsi diberantas sampai Antartika. Pun kata-kata Prabowo akan terus dikutip orang di Indonesia.
Meninggalnya Zhu Rongji juga tiba-tiba mengingatkan saya ke Nanjing. Itu tahun 2001. Tiga bulan sebelum Tiongkok masuk organisasi perdagangan dunia (WTO).
Waktu itu dunia Barat sedang merayu Tiongkok untuk mau masuk WTO. Maksudnya agar Tiongkok bisa 'didisiplinkan' lewat WTO. Tiongkok harus tunduk pada cara-cara dagang dunia.
Terasa sekali Tiongkok sedang meyakinkan rakyat mereka: masuk WTO itu baik. Kelihatan sekali pengusaha di sana takut kalau Tiongkok masuk WTO tidak bisa bebas lagi berdagang ke seluruh dunia. Sangkaan yang tentu saja salah.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id