Internasional

AI Makin Pesat, Mengapa Perusahaan Jepang Justru Lambat Mengadopsinya?

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berlangsung sangat cepat di berbagai negara. Teknologi ini mulai digunakan untuk menulis

AI Makin Pesat, Mengapa Perusahaan Jepang Justru Lambat Mengadopsinya?
Perusahaan Jepang, Image: DALL·E 3

Perusahaan membutuhkan perubahan budaya kerja, peningkatan keterampilan digital, modernisasi sistem lama, dan keberanian untuk menerima kemungkinan bahwa teknologi baru tidak selalu bekerja secara sempurna sejak awal.

OECD menemukan bahwa AI dapat memberikan manfaat bagi produktivitas dan kualitas pekerjaan, tetapi dampaknya sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut diterapkan.

Dengan kata lain, keberhasilan AI tidak ditentukan hanya oleh seberapa canggih model yang digunakan. Organisasi juga harus memiliki pekerja yang mampu memanfaatkannya dan sistem kerja yang memungkinkan teknologi tersebut memberikan hasil nyata.

Bagi Jepang, persoalan ini menjadi semakin mendesak karena tekanan demografi terus berlangsung.

Penutup

AI berkembang dengan kecepatan yang membuat perusahaan di berbagai negara berlomba menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas. Jepang sebenarnya memiliki alasan yang sangat kuat untuk melakukan hal yang sama karena menghadapi kekurangan tenaga kerja dan populasi yang semakin menua.

Namun, budaya perusahaan yang sangat berhati-hati, kekurangan tenaga ahli AI, sistem teknologi lama, dan kekhawatiran terhadap kesalahan membuat adopsi AI berlangsung lebih lambat.

Jepang bukan tidak tertarik terhadap AI. Negara tersebut justru sedang berusaha menemukan cara untuk menggunakannya tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini menjadi karakter penting dunia kerja Jepang.

Tantangannya adalah apakah pendekatan yang hati-hati tersebut dapat mengikuti kecepatan perkembangan AI. Jika terlalu lambat, teknologi yang seharusnya membantu Jepang mengatasi persoalan tenaga kerja justru berpotensi membuat kesenjangan produktivitas dengan negara lain semakin lebar.

Fakta dari OECD menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar persepsi. Tingkat penggunaan AI oleh pekerja Jepang memang masih rendah dibandingkan sejumlah negara maju. Pada saat yang sama, kebutuhan terhadap peningkatan produktivitas dan otomatisasi semakin besar.

Dengan demikian, masa depan AI di Jepang kemungkinan tidak ditentukan oleh kemampuan negara tersebut menciptakan teknologi baru saja, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan mengubah budaya kerja, meningkatkan keterampilan digital, dan berani menggunakan AI dalam skala yang lebih luas.

Referensi

Artificial Intelligence and the Labour Market in Japan, OECD

Why Japanese Firms Are Being So Slow to Use AI, BBC

Strong Majority of Japanese Firms Have Yet to Fully Embrace AI, Reuters

Berita Terkait