Catatan Dahlan Iskan . 13/08/2026, 05:50 WIB
Hasil lab menunjukkan bahwa Winda tewas akibat tembakan pistol revolver milik mantan suami. Si mantan memang seorang polisi yang punya wewenang untuk membawa pistol ke rumah. Semuanya sesuai prosedur. Masalahnya, lab mengatakan Winda tewas akibat tembakan tempel (ujung pistol menempel di kepala Winda). Pistol itu milik mantan.
Sang mantan kini sudah diamankan di Propam Polda Sumut. Pengakuannya: Winda tewas karena bunuh diri. Sumber itu menyebut Winda sebelum itu pun memang pernah berusaha bunuh diri.
Komisi III DPR sampai ke Medan untuk menjernihkan persoalan ini. Komisi III (bidang hukum) minta agar tewasnya Winda diungkap secara transparan. Termasuk bagaimana pistol sang mantan bisa dipakai untuk ''bunuh diri''.
Juga harus transparan: apa hubungan Winda dengan Blueray.
Yang jelas, di kalangan bisnis cargo, nama Blueray identik dengan harga murah. ''Harga lebih murah'' itulah yang menjadi awal ''iri hati'': pasti ada apa-apanya.
Anda sudah tahu: setiap produk bermerk asal luar negeri pasti sudah ada agen resminya di Indonesia. Bahkan ada agen tunggalnya. Sejak Blueray merajalela, para agen tunggal itu menjerit dalam bisik-bisik: kok barang yang diageninya beredar di pasar dengan harga jauh lebih murah. Termasuk I-Phone terbaru. Pun baju-baju bermerek.
Para agen itulah yang kemudian melacak: ada apa di balik itu. Mereka menemukan ada Blueray yang memasukkannya. Mereka pun lapor polisi. Dilakukanlah penggerebekan. Sampai ditemukan ribuan HP selundupan yang sudah bisa langsung dipakai tanpa mengurus IMEI yang mahal itu.
Pun di bidang ekspor. Sarang burung adalah komoditi yang ekspornya dibatasi. Dikenakan pula pajak ekspor. Lewat Blueray sarang burung Anda bisa diekspor dengan harga lebih baik.
Dan banyak lagi.
Lepas ada hubungan atau tidak tewasnya Winda telah ikut jadi bumbu perkara ini.
Pun meninggalnya Sutrimo. Orang Banyumas ini sudah diminta pulang ke kampungnya setelah dilakukan penggeledahan di rumah Febrie.
Tapi beberapa hari kemudian Sutrimo diminta balik ke Jakarta. Ketika ia beralasan tidak punya uang, pihak Jakarta kirim uang untuk beli tiket kereta. Bahkan kirim dua orang yang menemani Sutrimo kembali ke Jakarta.
Sayang Sutrimo kemudian meninggal dunia. Kita tidak bisa bertanya kepadanya: sebagai penjaga malam di rumah pejabat tinggi yang begitu penting mengapa ia meloloskan petugas penggeledah masuk ke rumah Febrie.
Anda bisa bantu menjawabnya seolah-olah Anda Sutrimo. (Dahlan Iskan)
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id