Catatan Dahlan Iskan . 07/08/2026, 06:37 WIB
RS Cipto Mangunkusumo sudah beberapa kali melakukannya. Tim dokter transplannya sudah bisa dibilang matang. RS Siloam Jakarta juga sudah beberapa kali melakukan. Kini RS Fatmawati mulai mencobanya dengan pendampingan dari Korea.
Kalau ditanya orang yang ingin transplan hati --tidak sedikit yang menanyakan itu-- biasanya saya sarankan ke RSCM atau RS Siloam Jakarta. Saya berikan juga nama dan nomor HP orang yang sudah sukses menjalaninya. Misalnya seorang perwira menengah polisi yang melakukan transplantasi hati di RS Siloam. Saat itu pangkatnya masih kapten. Sekarang sudah kolonel polisi (Kombespol). Beliau selalu bersedia ketika saya tanya apakah nomor HP-nya boleh saya berikan ke orang yang ingin transplan. Hanya saja saya kehilangan nomor orang yang sudah sukses di RSCM. Yang nomor teleponnya masih ada di HP saya orangnya sudah tidak ada. Saya perlu mencari siapa yang lain yang juga masih sukses sampai sekarang.
Yang sudah meninggal itu sama sekali bukan karena transplantasinya gagal. Saya lihat itu sepenuhnya faktor si pasien. Ups....Bisa juga bukan salah pasien. Mungkin keadaan yang salah. Ia tidak disiplin minum obat pasca-transplant. Misalnya saat saya bertemu dengannya: ia bilang sudah tiga bulan tidak minum obatnya.
Mungkin karena tidak mampu membelinya. Mungkin juga karena merasa kesehatannya baik-baik saja. Saya cenderung menilai dua-duanya.
Saya sendiri begitu takut untuk tidak minum obat itu. Tidak pernah lupa sehari pun. Termasuk ketika masih harus meminumnya dua kali sehari. Memang tidak murah. Total sekitar 7 juta sebulan.
Ada obat anti rejeksi --agar hati yang milik orang lain tidak ditolak oleh tuhuh si penerima. Anda sudah tahu sistem tubuh: benda asing apa pun harus ditolak. Termasuk hati anak maupun istri sendiri: sama-sama hati tapi tetap diperlakukan sebagai benda asing.
Lalu, kalau kerusakan hati itu akibat hepatitis B, harus minum obat anti hepatitis. Juga seumur hidup. Memang hepatitis B itu menyerang liver. Ketika livernya sudah ”dibuang”, diganti liver ”baru” bukankah harusnya hepatitisnya sudah ikut terbuang? Kenapa masih diharuskan minum obat?
Saya pernah mendiskusikannya dengan dokter transplat saya: ternyata sebenarnya virus hepatitis B itu tidak pernah benar-benar hilang dari sel di tubuh yang pernah menderitanya. Masih tetap ada ”bibit”-nya. Ngendon di sel tubuh.
Ketika saya minum obat itu ”bibit” tersebut 'tidur'. Tidak bisa berkembang. Tapi begitu imunitas tubuh turun ”bibit” itu bisa hidup lagi. Berkembang. Lalu masuk ke hati: ”baru”.
Saya pun wanti-wanti ke Mas Olik: jangan sampai abai minum obat. "Kalau sampai virus hepatitis B itu masuk lagi ke hati ”baru”, berarti Anda menghina istri Anda. Hati Anda itu hatinya Nisa," kata saya. Suami istri itu pun sangat paham.
Di bidang dua jenis obat itu, selama dua puluh tahun terakhir, masih sama. Saya sesekali bertanya: apakah ada obat yang lebih baru? Lebih hebat?
Saya menanyakannya karena siapa tahu sudah ada yang lebih aman untuk ginjal dan tidak mengurangi kepadatan tulang. Obat yang saya minum mengandung dua efek samping itu.
"Belum ada yang lebih baru" ujar dokter. Dua puluh tahun! Belum ditemukan yang baru.
Bisa saja itu bukan berarti lambat. Bisa jadi penemuan obat itu, dulu, sudah begitu bagusnya.
Setidaknya dengan berpikir begitu membuat jiwa lebih tenang. Bukan? (DAHLAN ISKAN)
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id