Catatan Dahlan Iskan . 07/08/2026, 06:37 WIB

Yang Baru

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Oleh: Dahlan Iskan

Kemajuan apa saja yang terjadi selama 20 tahun terakhir di bidang transplantasi hati?

Yang terbaru: penggunaan robot di saat pengambilan hati milik pendonor yang akan diberikan kepada pasien. Sembilan bulan lalu Nisa menjadi orang pertama di RS Persahabatan Beijing. Separo hati Nisa dipotong untuk dipasang di badan suaminyi sendiri. Kemarin saya bertemu Nisa dan suami. Dua-duanya sangat sehat. Belum begitu lama pulang dari haji.

Tiga bulan lalu, di RS Fatmawati Jakarta, dilakukan transplantasi hati dengan teknik yang juga baru --meski tidak sebaru robot. Yakni pengambilan hatinya dilakukan dengan tehnik laparoskopi. Baru sekali itu dilakukan di Indonesia. Perut pendonor tidak perlu disayat panjang. Cukup 15 cm.

Kok masih 15 cm? Tidak cukup dikeluarkan lewat lubang selang untuk memasukkan kamera dan pisau?

Laparoskopinya sendiri memang tidak perlu sayatan panjang. Begitu kamera dan pisau dimasukkan lewat ujung ”selang” dokter melakukan pemotongan hati pakai tuas di komputer seperti dalam permainan game. Masalahnya, separo hati yang sudah terpotong itu harus dikeluarkan: untuk dipasang di tubuh pasien. Mengeluarkan separo hati tidak bisa lewat lubang seukuran selang. Harus tetap dilakukan sayatan. Hanya saja tidak perlu lagi sayatan yang sampai 25 cm. Untuk mengeluarkannya tidak perlu pakai tangan dokter.

Yang terjadi di RS Fatmawati --RS milik pemerintah pusat di Jakarta Selatan seperti halnya RS dr Cipto Mangunkusumo di Jakarta Pusat-- adalah penerapan apa yang sudah biasa dilakukan di Korea Selatan. Yakni oleh Prof Lee dari Seoul National University Hospital (SNUH). Prof Lee sendiri datang ke RS Fatmawati mendampingi pelaksanaan transplantasi: separo hati seorang anak (26 tahun) diberikan kepada ayah (52 tahun).

Rasanya baru dua kemajuan itu yang terjadi selama 20 tahun terakhir. Tentu termasuk teknik cara mengeluarkan sepotong hati itu. Tidak lagi pakai tangan. Setelah hati terpotong, potongan itu dibungkus dengan plastik steril. Tentu jenis plastik khusus. Bukan tas kresek. Yang melakukan pembungkusan pun alat. Setelah hati terbungkus barulah bungkus itu ditarik keluar lewat sayatan sekitar 15 cm.

Anda sudah tahu: organ hati sangat lunak. Lewat sayatan 15 cm pun cukup. Yang penting saat ditarik tetap utuh. Tidak remuk. Yang mudah remuk itu kalau hati sudah dibakar jadi sate.

Sesulit apa pun penarikan dari perut pendonor, lebih sulit saat melakukan pemotongannya. Dokter lebih hebat dari insinyur elektro yang bertugas melepaskan kabel-kabel super komputer. Kabelnya masih bisa dilihat oleh mata. Yang dilepas dalam pemotongan hati adalah syaraf-syaraf halus, tidak terlihat oleh mata, jumlahnya luar biasa banyak –saya tidak punya kemampuan menghitungnya. Juga harus memotong saluran-saluran darah yang tidak kalah lembutnya dan banyaknya.

Baca Juga

Tentu lebih sulit lagi memasangnya di tubuh pasien: menyambungkan seluruh syaraf dan pembuluh darah saat hati dari pendonor dipasang di pasien. Sangat rumit. Jauh lebih mudah keluarkan saja fatwa: itu haram!

"Nisa, coba Anda ukur, bekas sayatan di perut Anda berapa sentimeter?" tanya saya ke Nisa lewat WA. Saya terpaksa merepotkan Nisa karena tidak mungkin mengukurnyi sendiri: Mas Olik, suaminyi bisa melotot.

"10 cm Pak," jawabnyi.

Nisa adalah S-1 keperawatan alumnus Universitas Airlangga. Pasangan dari Mojosari (猫草沙利) Mojokerto ini masih berumur 40 tahun lebih. Nisa kian langsing dan cantik. Itu karena, setelah sehat lagi, suaminyi tambah segar, terlihat lebih muda dan lebih ganteng.

Berarti sayatan dalam teknologi robot lebih minimalis dari yang terjadi di RS Fatmawati. Itu tidak terlalu penting. Yang penting sudah kian bertambah rumah sakit di dalam negeri yang mampu melaksanakan transplantasi.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id