Catatan Dahlan Iskan . 06/08/2026, 05:30 WIB
"Sudah main golf di negara mana saja?" tanya saya suatu saat.
"Sebut saja negaranya. Lalu saya jawab sudah atau belum," jawabnya.
Bahkan Robert pernah ''sekolah'' manajemen lapangan golf dengan cara magang di lapangan golf terbaik di dunia: St Andrews, Skotlandia. Yakni saat Robert mendapat tugas dari perdana menteri (waktu itu) Lee Kuan Yew untuk mengelola lapangan golf di Singapura.
Sejak pandemi Covid-19 hubungan saya dan Robert renggang. Ia tidak mau lagi ke Surabaya. Ke Jakarta. Ke Beijing. Ke Tianjin. Amerika. Tidak mau diajak ke mana saja. Padahal, sejak 30 tahun lalu, ke mana pun saya pergi ada Robert di sebelah saya.
"Saya harus menjaga istri," ujar Robert. "Saya tidak mau lagi meninggalkan Dorothi sendirian," tambahnya.
Dorothi memang kurang sehat. Tiga anak mereka sudah mandiri --satu di Kuala Lumpur satunya lagi di California. Yang di Amerika itu, Michelle, beberapa kali tampil di podcast diwawancara soal bitcoin dan artificial intelligence.
Sesekali saya-lah yang menengoknya di Singapura. Saya berhutang nyawa kepadanya. Saya juga sering melankolis kalau ke luar negeri sendirian. Tidak ada lagi Robert bersama saya. Pengetahuan Robert sangat dalam. Kami sering bicara filsafat bersamanya. Filsafat hidup. Juga filsafat bisnis.
Dari Robert saya tahu perbedaan antara bisnis bersama orang Hong Kong dan orang Singapura. Di Hong Kong, bos bertemu bos untuk menyepakati bisnis baru. Anak buah mencarikan jalan agar kesepakatan itu bisa terwujud. Kalau ada aturan yang menghalanginya tugas anak buah untuk mencarikan jalan keluar. Termasuk mencari terobosan.
Di Singapura, anak buah masing-masing bos yang bicara lebih dulu. Detail. Semua hambatan dibicarakan. Setelah semua clear barulah bos bertemu bos.
Sepanjang perjalanan di luar negeri pembicaraan kami selalu berisi. Semua hal, semua topik kami bisa membicarakannya dengan asyik. Hanya satu yang tidak bisa nyambung: kalau ia mengajak bicara soal golf. Saya gagal memahami golf. Ia juga gagal mendakwahi saya soal golf. Saya tidak pernah bisa jadi mualaf golf.
Ke mana-mana ia membawa majalah golf terbaru. Atau membawa buku. Saya sering pinjam bukunya tapi tidak pernah mencoba melihat majalah golfnya.
Suatu malam saya masuk kamarnya: pinjam majalah golf. Robert tampak senang melihat saya mulai ingin tahu soal golf. "Alhamdulillah," ujar Robert yang bisa mengucapkan beberapa istilah dalam Islam.
"Bukan. Saya bukan mulai tertarik golf. Saya lagi sulit tidur. Saya harus cari bacaan yang membuat saya cepat tidur," jawab saya.
Beberapa tahun lalu, ketika saya ke Edinburgh sendirian, saya perlukan naik mobil dua jam ke luar kota. Saya sengaja tidak kabari Robert. Saya ke sana hanya ingin tahu lapangan golf tempat Robert pernah sekolah manajemen di dalamnya. Tiba di sana saya berfoto. Di lapangannya. Di museumnya. Di restorannya. Lalu foto-foto itu saya kirim kepadanya.
"Hahaha...St Andrews!!!" komentarnya.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id