"Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia," jelas Ardhasena.
BMKG Perluas Operasi Modifikasi Cuaca
Sebagai langkah antisipasi, BMKG terus menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan penyemaian awan saat ini telah dilaksanakan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah.
Operasi tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kehutanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain itu, BMKG juga membuka posko OMC di:
-
Pekanbaru untuk melindungi wilayah Riau.
-
Bandung guna membantu mengurangi risiko kekeringan di Jawa Barat.
Menurut Seto, penyemaian awan merupakan langkah pelengkap yang bertujuan memaksimalkan peluang hujan alami sebelum kekeringan menjadi semakin parah.
Namun apabila kondisi atmosfer tidak memungkinkan dilakukan penyemaian awan, maka upaya pemadaman kebakaran secara langsung di lapangan menjadi pilihan utama.
Baca Juga
"Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama," katanya.
Sepanjang tahun 2026, BMKG telah melaksanakan 17 kali Operasi Modifikasi Cuaca untuk mendukung penanggulangan karhutla di berbagai provinsi, seperti Aceh, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan.
Waduk Strategis Juga Jadi Prioritas
Selain mencegah karhutla, OMC juga dimanfaatkan untuk meningkatkan cadangan air di sejumlah waduk dan daerah aliran sungai (DAS) strategis.
Beberapa kawasan yang menjadi prioritas meliputi: