"Itu bukan nama resmi saya. Itu nama dagang saya," ujar Datuk. "Kan tidak ada gelar Datuk Diraja di Malaysia" tambahnya.
Dengan nama Datuk kelihatannya usahanya kian sukses. Indogrosir kini sudah berdiri di 10 negara bagian di Malaysia. Sebulan sudah lebih 10 kontainer diekspor ke Malaysia.
Tiga hari lalu Datuk menemui saya di rumah dekat Pacet. Ini kali ketiga Datuk ke Pacet. Ia pernah ikut "muktamar" Perusuh Disway di situ.
"Saya juga baru pulang dari Amerika. Sayang kita tidak bisa bertemu di sana," ujar Datuk.
Saat dari Amerika saya ke Kanada, Datuk dari Amerika ke Mexico City. Ia berusaha nonton Piala Dunia di ibu kota Meksiko itu. Meski tidak dapat tiket Datuk tetap ke stadion Piala Dunia. Siapa tahu ada tiket dijual. Setidaknya bisa ikut nobar di kompleks stadion. Ikut merasakan pesta kemenangan tuan rumah.
Dari Meksiko Datuk ke Bogota, ibu kota Colombia. Ia menyaksikan bahwa busway di Jakarta persis sama dengan di Bogota. Dari Bogota ia terbang 1,5 jam ke arah selatan: ke kota kecil di tengah hutan, di pinggir sungai Amazon: kota Leticia.
Datuk ke Leticia karena unik: dengan ke Leticia berarti sekaligus ke tiga negara: Colombia, Brazil, dan Peru.
Datuk cukup ke pertigaan jalan. Sedikit melangkah ke situ sudah masuk wilayah Brazil. Lalu melangkah ke samping masuk wilayah Peru. Tanpa lewat imigrasi. Tanpa visa. Tapi juga tidak bisa melihat apa-apa. Kota kecil itu jauh dari pusat keramaian negara masing-masing.
Itu sudah cukup membuat daftar Datuk tambah panjang: sudah langsung pernah ke 53 negara --yang sebelumnya 50 negara.
Datuk, bagi Anda, adalah contoh "kabur" yang sukses. Mungkin karena kaburnya bukan ke Yaman. (Dahlan Iskan)