Akhirnya kepercayaan pulih. Termasuk kepercayaan kepada Habibie pribadi. Saya ingat betapa sinis para pelaku usaha besar di zaman awal Habibie –antara lain karena dikira akan membawa misi ICMI ke jabatannya. Memang banyak ''gank'' ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) masuk ke pemerintahan tapi kunci-kunci pemerintahan dipegang teknokrat seperti Boediono, Bambang Sudibyo, Syahril Sabirin.
Lalu sampailah pada kasus Bank Bali. Anda sudah tahu, biar pun Anda masih mberangkang saat itu: ada Bali Gate.
Bank Bali adalah bank yang baik. Nomor empat terbesar di bank swasta Indonesia. Saat krisis, Bank Bali tidak termasuk 15 bank yang ditutup. Justru Bank Bali meminjamkan uang ke bank-bank itu: Rp 1,2 triliun.
Lantaran bank-bank itu ditutup uang Bank Bali nyangkut di sana. Mau menyita aset yang dijaminkan keburu disita oleh badan penyelamat perbankan yang dibentuk pemerintah. Akibatnya Bank Bali dianggap kurang punya kecukupan modal. Kalau saja uang yang dipinjamkan itu bisa balik Bank Bali selamat.
Maka Rudy Ramli cari orang kuat untuk membantu menagihkan. Dipakailah orang seperti pemilik Mulia Group, Djoko Tjandra, untuk menagih lewat cessie. Djoko Tjandra menggunakan orang politik seperti tokoh Golkar Setya Novanto.
Rudy Ramli kehilangan Bank Bali. Orang banyak, termasuk Anda, kalau kehilangan paling-paling kehilangan HP. Rudy Ramli kehilangan bank. Kini ia rajin berkelana ke makam-makam walisongo. Saya pernah diminta menemaninya ke makam Sunan Ampel. Ia terus berusaha mendapatkan kembali Bank Bali. Salah satu usahanya: ganti nama. Agar lebih mujur. Nama Rudy Ramli kini sah menjadi Rudhi Djaja Li.
Bank Bali Gate mengakhiri masa jabatan Habibie. Sayang sekali Habibie jatuh akibat gabungan antara hilangnya satu provinsi dan Bali Gate. Syahril Sabirin, gubernur Bank Indonesia yang sangat berjasa dalam mengendalikan moneter di masa begitu krisis bahkan masuk penjara tiga tahun.
Jadi apakah mengembalikan kepercayaan saat ini lebih mudah dibanding saat itu? (Dahlan Iskan)