Oleh: Dahlan Iskan
"Jangan takut operasi jantung. Anda akan 10 tahun lebih muda," itu nasihat saya untuk para penderita sakit jantung. Pun kepada Nanik S. Deyang, kemarin pagi, setelah dia mundur dari jabatan kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Saya lihat Deyang agak takut-takut operasi. Sampai akan ke luar negeri cari pilihan selain operasi.
"Di zaman sekarang ini operasi jantung sudah semudah khitan," kata saya lagi. Tentu itu saya lebih-lebihkan agar dia tidak takut. Tapi sebenarnya memang begitu: para dokter Indonesia pun sudah sangat mahir melakukan operasi jantung.
Soal ''lebih muda 10 tahun'' juga bukan teori saya. Itu pernah diucapkan Prof. Dr. B.J. Habibie setelah menjalani operasi jantung. Beberapa teman, yang sukses menjalani operasi jantung, juga merasa jauh lebih muda.
Saya tahu Deyang sudah lama mengidap tekanan darah tinggi. Kalau bicara juga ngos-ngosan. Dia tidak terlalu peduli dengan kesehatannyi. Cenderung sembrono. Dia sedikit dari wartawan yang sangat idealis mengikuti sikap mentornyi: Valens G. Doi, senior di Harian Kompas.
Bahwa dia pilih berobat ke luar negeri sebenarnya berlebihan. Tapi kalau itu menyangkut ketenangan jiwa, saya tidak akan ikut campur.
Saya hanya berpesan: "jangan hiraukan kecaman, sindiran, ejekan, dan cemoohan di medsos''.
Sebersih apa pun, publik tidak percaya kalau Anda bersih. Publik punya logika sendiri: seseorang yang hidup di dunia yang berlumuran oli tidak mungkin tidak terkena oli.
Maka nama Deyang jadi bulan-bulanan di medsos. Sampai ada yang mengecam caranyi mundur.
Baca Juga
"Kok lewat medsos. Lewat Facebook pribadi. Isinya cengengesan pula".
Maka, kata saya, lain kali kalau Anda mundur lagi jangan lewat medsos. Gak usahlah menjelaskan alasan mengapa mundur. Cukup kalau sudah mengajukannya ke presiden dan sudah disetujui. Kalau pun punya alasan tertentu cukup diberitahukan ke presiden.
Rasanya Anda memang tidak cocok menjadi birokrat –apalagi menjadi orang nomor satu di lembaga setingkat menteri. Pekerjaan paling cocok untuk Anda, ya, jadi wartawan seperti dulu. Tapi profesi wartawan pun sekarang sudah berubah. Maka, sebagai ganti, Anda sebaiknya jadi oposisi –seperti yang Anda lakukan di era Presiden Jokowi menjelang periode kedua.
Waktu itu Anda begitu enteng berubah sikap: dari pendukung all out Jokowi menjadi anti-Jokowi.
Tapi saya juga tahu Anda sangat cocok dengan Prabowo: tidak mungkin jadi oposisi. Terutama Anda satu pemikiran dalam program ''memihak rakyat'' –meski hati Anda berontak kok pelaksanaannya banyak terjadi penyelewengan. Itu membuat Anda ingin jadi oposisi tapi sulit bersikap oposisi kepada Prabowo.