Catatan Dahlan Iskan . 23/07/2026, 05:48 WIB
Akhirnya saya anjurkan saja di sini: begitu dokter di luar negeri juga memutuskan Anda harus operasi: pulanglah. Jalani operasi itu di RS Pertamina yang Anda jadi komisaris di induk perusahaan itu. Nyawa itu hanya titipan. Bisa diambil yang titip kapan saja dan di mana pun.
Beda dengan saya: saya berobat ke RS Madinah karena jatuh sakitnya saat umrah bersama keluarga. Lalu saya batal umrah untuk berobat di Surabaya. Begitu mendarat dari Madinah saya langsung ke RS National Hospital. Tiga hari opname di situ: tidak ditemukan sakit apa.
Setelah ke Singapura baru ditemukan: aorta dissection. Pembulah darah utama saya pecah. Sepanjang setengah meter. Untung tidak meninggal dalam penerbangan Madinah-Surabaya. Atau dalam penerbangan Surabaya-Singapura.
Itu sekaligus menunjukkan ''wajah lain'' dokter Indonesia: tidak mau buru-buru minta pasien di CT Scan. Kasihan pasien. Sekali CT Scan bisa habis Rp 7,5 juta. Dokter Indonesia terlalu memikirkan keuangan pasiennya. Padahal kalau langsung di-CT Scan akan ketahuan saat itu juga: aorta dissection.
Singapura menemukan penyakit saya bukan karena dokternya lebih ahli. Tapi karena dokternya memutuskan langsung CT Scan. Tidak perlu memikirkan mahal atau tidak. Tidak pakai prosedur bertahap –kalau tidak ditemukan baru diminta CT Scan.
Ketika berobat ke luar negeri pasien Indonesia tidak akan keberatan ditagih berapa pun. Paling hanya ngomel di dalam hati. Hasilnya: banyak pasien merasa berobat di luar negeri lebih hebat: cepat ketahuan penyakitnya dan cepat ditangani. Akhirnya muncul citra tingkat keberhasilan berobat di luar negeri tinggi. Padahal itu terkait langsung dengan ''keberanian'' dokter melakukan tindakan ''mahal'' di awal pemeriksaan. Bukan karena lebih pintar.
Mungkin dokter Indonesia sudah waktunya berubah: lebih berani melakukan pemeriksaan awal dengan alat yang lebih canggih (baca: mahal). Dari pada seperti selama ini: pemeriksaan dilakukan secara bertahap dimulai dari sangat awal, pakai stetoskop. Dicoba diberi obat. Kalau tidak sembuh baru disuruh ke lab. Periksa darah. Kalau tidak berhasil juga baru CT Scan.
Akibatnya nama dokter di Indonesia dianggap kurang bermutu dibanding di luar negeri.
Pendapat saya seperti itu saya sampaikan terbuka ketika diminta sebagai pembicara di seminar besar para dokter ahli jantung pekan lalu. Di Jakarta. Lebih 1000 ahli jantung anggota Perki (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia) hadir.
Dari lima pembicara hanya saya yang bukan dokter: Dirut BPJS Kesehatan dr Prihati Pujowaskito, Ketua PERKI dr Ade Meidian Ambari, Ketua Dewan Etik PERKI dr Munawar, Ketua Kolegium Jantung dr Renan Sukmawan. Wartawan senior Desi Anwar jadi moderator.
Di forum itu saya juga mengajukan usul: agar larangan dokter Indonesia mengiklankan diri dicabut. Akibat larangan itu publik tidak tahu siapa saja dokter hebat di Indonesia. Tidak tahu juga seberapa banyak pasien yang sembuh di tangan mereka. Padahal, di luar negeri dokter berlomba menonjolkan diri atas kemampuan khusus mereka. Nama-nama dokter hebat di Indonesia hanya beredar dari mulut ke telinga.
Perbanyaklah ''iklan'' success story pasien ketika ditangani dokter Indonesia. Dari situ akan muncul rasa percaya pada publik. Sehingga orang seperti Nanik S. Deyang pun bisa merasa pede menjalani operasi jantung di dalam negeri.(Dahlan Iskan)
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id