Dari Euforia ke Nestapa: Luka Tak Berdarah di Final Piala Dunia 2026

fin.co.id - 21/07/2026, 09:37 WIB

Dari Euforia ke Nestapa: Luka Tak Berdarah di Final Piala Dunia 2026

Lionel Messi menangis usai gagal raih Piala Dunia di final 2026. (Foto Instagram 433)

Ketika azan Subuh berkumandang, saya memilih mematikan televisi dan berjalan menuju masjid meskipun pertandingan masih berlangsung. Di sepanjang perjalanan, hati kecil saya masih berharap.

Siapa tahu Argentina mampu menyamakan kedudukan pada menit-menit akhir tambahan waktu. Bukankah sepak bola sering menghadirkan cerita yang sulit dipercaya?

"Bukankah Argentina mampu singkirkan Inggris di semifinal dengan dua gol 13 menit tersisa?" Begitu kata batinku. Sayangnya, keajaiban itu tidak datang. Doa dan harapan saya tidak menjadi kenyataan.

Usai salat, saya kembali ke kantor dan langsung membuka ponsel. Pertandingan telah berakhir. Skor akhirnya 1-0 untuk kemenangan Spanyol. Saya hanya bisa terdiam menatap layar. Rasanya seperti mimpi yang tidak ingin saya alami.

Sejak Argentina menjadi juara Piala Dunia 2022, saya hampir lupa bagaimana rasanya melihat tim kesayangan ini kalah di partai final.

Apalagi sebelumnya Argentina menjalani periode yang begitu indah. Mereka menjuarai Finalissima melawan Italia, kemudian dua kali berturut-turut mengangkat trofi Copa America, lalu menjadi juara Piala Dunia 2022.

Selama bertahun-tahun saya lebih sering merasakan euforia Argentina dibandingkan kekecewaan. Hingga kekalahan di final Piala Dunia 2026 ini menjadi tamparan yang sangat keras.

Sepanjang hari itu suasana hati saya benar-benar berubah. Di kantor saya lebih banyak diam. Makanan terasa hambar. Pikiran terus kembali ke pertandingan dini hari tadi. Bahkan, tidur pun tidak nyenyak seperti biasanya. Bahkan kekalahan itu bukan akhir dari cerita.

Begitu membuka Facebook, notifikasi terus berdatangan. Teman-teman, kerabat, hingga sesama pecinta sepak bola mulai memenuhi kolom komentar. Meme, candaan, hingga kalimat yang dulu sering saya lontarkan kepada pendukung tim lain kini berbalik menghampiri saya.

Saya memang tidak bisa sepenuhnya protes. Karena selama Piala Dunia 2026 berlangsung, saya termasuk orang yang cukup aktif mengucilkan pendukung tim-tim besar yang tersingkir.

Ketika ada tim favorit gugur di babak 32 besar, 16 besar, perempat final, hingga semifinal, saya ikut membuat status, membalas komentar, bahkan sesekali meledek mereka. Saat Argentina masih terus melaju, rasanya semua itu menyenangkan. Sampai akhirnya roda itu berputar.

Kini justru saya yang menjadi sasaran. Setiap membuka Facebook, selalu ada teman yang menandai saya di unggahan tentang kekalahan Argentina.

Ada yang mengirim gambar editan, ada yang menyebut nama saya di kolom komentar, bahkan ada yang sengaja mengingatkan semua status lama yang pernah saya buat ketika menggoda pendukung tim lain.

Awalnya terasa menyebalkan. Namun setelah dipikir-pikir, mungkin beginilah sepak bola bekerja. Hari ini kita tertawa, besok bisa jadi kita yang ditertawakan. Hari ini tim kita berdiri di podium juara, esok hari mungkin harus rela melihat lawan mengangkat trofi.

Sepak bola memang penuh emosi. Ia bisa membuat orang rela begadang hingga dini hari, berteriak saat gol tercipta, kecewa ketika tim kesayangan kalah, bahkan saling bercanda dengan sesama penggemar. Selama semuanya dilakukan dalam batas yang wajar, itulah warna yang membuat sepak bola begitu dicintai.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca