Dari Euforia ke Nestapa: Luka Tak Berdarah di Final Piala Dunia 2026

fin.co.id - 21/07/2026, 09:37 WIB

Dari Euforia ke Nestapa: Luka Tak Berdarah di Final Piala Dunia 2026

Lionel Messi menangis usai gagal raih Piala Dunia di final 2026. (Foto Instagram 433)

Tidak semua luka meninggalkan bekas di tubuh. Ada yang justru tinggal di hati, lahir dari sebuah pertandingan sepak bola. Seperti malam itu yang terasa jauh lebih panjang.

Oleh: Afdal Namakule- Jakarta

Senin 20 Juli 2026 dini hari itu, pukul 02.00 WIB, alarm di ponsel saya berbunyi. Dengan mata yang masih berat, saya bangun dari tempat tidur di lantai 4 kantor fin.co.id, Palmera Barat, Jakarta Barat. Tidak ada keramaian, hanya suara pendingin ruangan dan jalanan yang sesekali terdengar dari kejauhan.

Malam itu adalah momen yang juga paling ditunggu penggemar sepak boa di seluruh dunia. Ya, malam itu adalah laga final Argentina vs Spanyol di Piala Dunia 2026. Sebagai penggemar fanatik Argentina, pertandingan ini bukan sekadar tontonan. Ini adalah laga yang menentukan kebanggaan.

Sejak bertahun-tahun lalu, saya mendukung tim Tango. Lionel Messi menjadi alasan pertama saya jatuh hati kepada Argentina, dan sejak saat itu saya selalu mengikuti perjalanan tim ini.

Di media sosial, terutama Facebook, hampir setiap saat saya membagikan kabar tentang Argentina maupun Messi. Ketika Argentina menang dalam sebuah turnamen, saya ikut merayakannya. Ketika mereka tampil luar biasa, saya tak pernah ragu memuji.

Malam itu saya menonton sendirian di kantor. Tidak ada teman berdiskusi, tidak ada suara sorak-sorai. Hanya saya, televisi, dan secangkir kopi yang perlahan mulai dingin karena terlalu fokus menatap layar.

Sejak peluit pertama dibunyikan, jantung saya berdebar kencang. Rasanya seperti sedang menaiki roller coaster yang melaju tanpa rem. Permainan Argentina terasa berbeda dari biasanya. Mereka kesulitan mengembangkan permainan. Spanyol tampil dominan dengan penguasaan bola yang jauh lebih baik.

Statistik pertandingan membuat saya semakin gelisah. Argentina hanya menguasai bola sekitar 36 persen dan bahkan belum mampu mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran. Setiap kali Spanyol membangun serangan, saya hanya bisa berharap lini pertahanan Argentina mampu bertahan.

Pertandingan terus berlangsung dengan penguasaan yang dominan ole Spanyol. Namun meskipun tampil dominan, hingga turun minum, La Roja belum mempu menembus pertahanan Argentina. Skor bertahan 0-0

Pertandingan kemudian berlanjut, namun harapan itu perlahan mulai goyah ketika pertandingan memasuki menit ke-80. Enzo Fernandez diganjar kartu merah setelah melakukan tekel keras terhadap pemain Spanyol.

Saat kartu merah itu keluar, rasanya seperti mendengar suara petir di siang bolong. "Sudah selesai," batin saya saat itu.

Dengan hanya sepuluh pemain di lapangan, saya mulai yakin Spanyol akan membawa pulang trofi Piala Dunia 2026. Argentina memang masih bertahan mati-matian. Para pemain berjuang menutup setiap ruang, mematahkan serangan demi serangan. Namun tekanan Spanyol semakin sulit dibendung.

Laga berlanjut hingga babak perpanjangan waktu. Saya masih menaruh secercah harapan, meski sangat tipis. Dalam sepak bola, keajaiban selalu mungkin terjadi.

Namun, pada menit ke-106, Ferran Torres berhasil mencetak gol yang memecah kebuntuan. Bola bersarang di gawang Argentina. Suasana di ruangan yang sejak tadi sunyi terasa semakin hening. Saya terdiam beberapa saat menatap layar televisi. Harapan yang tersisa benar-benar tinggal seutas benang.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca