Danantara di Persimpangan Sejarah: Membangun Kepercayaan Global Tanpa Mengorbankan Tata Kelola

fin.co.id - 20/07/2026, 11:10 WIB

Danantara di Persimpangan Sejarah: Membangun Kepercayaan Global Tanpa Mengorbankan Tata Kelola

S&P memberi sinyal positif bagi Danantara. Namun, tata kelola, transparansi, dan kepercayaan tetap menjadi kunci sukses jangka panjang.

Artinya, konsolidasi BUMN tidak cukup dilakukan melalui penggabungan kepemilikan saham.

Yang jauh lebih penting adalah konsolidasi standar tata kelola.

Haruskah Danantara Menjadi Pemegang Saham Bursa Efek Indonesia?

Gagasan agar Danantara menjadi salah satu pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) menarik untuk didiskusikan.

Secara teoritis terdapat beberapa manfaat.

Pertama, memperkuat posisi negara dalam pengembangan pasar modal.

Kedua, mempercepat integrasi kebijakan investasi nasional.

Ketiga, meningkatkan koordinasi antara pasar modal dengan perusahaan-perusahaan BUMN yang telah menjadi emiten.

Namun pada saat yang sama muncul persoalan yang tidak sederhana.

Danantara merupakan pemegang saham berbagai BUMN yang tercatat di BEI.

Apabila pada saat yang sama Danantara juga menjadi pemegang saham bursa, maka muncul potensi konflik kepentingan (conflict of interest).

Dalam teori Corporate Governance (Shleifer & Vishny, 1997), konflik kepentingan terjadi ketika suatu institusi memiliki posisi ganda yang memungkinkan terjadinya pengaruh terhadap proses pengambilan keputusan yang seharusnya independen.

Sebagai contoh:

•Danantara berkepentingan meningkatkan valuasi perusahaan BUMN.

•Bursa berkepentingan menjaga integritas dan keadilan perdagangan.

AdminFIN
AdminFIN
Penulis

Penulis FIN.CO.ID